Showing posts with label Bahasa Indonesia. Show all posts
Showing posts with label Bahasa Indonesia. Show all posts

Thursday, June 30, 2011

Ujian dan Cobaan: Penggugur Dosa, Penambah Kebaikan

Dalam hidup, kita tidak lepas dari berbagai ujian dan cobaan.  Kadang ujian itu dapat kita lalui tanpa kesulitan berarti. Tapi kadang, cobaan yang kita terima sangat berat sampai rasanya kita tak sanggup menanggungnya.  Pada saat seperti itu, kita mungkin merasa sebagai orang yang paling malang sedunia.  Seakan-akan Allah meninggalkan kita, membiarkan kita terbenam dalam kesulitan.
Namun, Rasulullah saw. bersabda:
Barangsiapa dikehendaki Allah kebaikan baginya maka dia diuji (dicoba dengan suatu musibah). (HR. Bukhari).
Apabila Allah menyenangi hamba maka dia diuji agar Allah mendengar permohonannya (kerendahan dirinya). (HR. Al-Baihaqi).
Tiada seorang mukmin ditimpa rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyakit atau kesedihan (kesusahan) sampai pun duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah menghapus dosa-dosanya. (HR. Bukhari).
Tiada seorang muslim tertusuk duri atau yang lebih dari itu, kecuali Allah mencatat baginya kebaikan dan menghapus darinya dosa. (HR. Bukhari).
Cobaan atau kesulitan terkecil pun, ketika kita menerimanya dengan ikhlas, maka berguguran dosa-dosa kita lagi bertambah kebaikan kita.  Berlawanan dengan apa yang kadang terlintas di pikiran kita, ujian dan cobaan justru merupakan bentuk kasih sayang Allah swt. kepada kita. Ketika mendapat ujian, kita juga mendapat kesempatan untuk mendekatkan diri dan menaikkan derajat kita di hadapan Allah swt.  Semakin berat cobaan kita, semakin besar pula kebaikan yang akan kita terima ketika berhasil melaluinya.
Rasulullah saw. bersabda:
Besarnya pahala sesuai dengan besarnya ujian dan cobaan. Sesungguhnya Allah ‘Azza wajalla bila menyenangi suatu kaum Allah menguji mereka. Barangsiapa bersabar maka baginya manfaat kesabarannya dan barangsiapa murka maka baginya murka Allah. (HR. Tirmidzi).
Sa’ad bin Abi Waqqash berkata, “Aku bertanya kepada Rasulullah Saw, ‘Ya Rasulullah, siapakah orang yang paling berat ujian dan cobaannya?’” Nabi Saw menjawab, “Para nabi kemudian yang meniru (menyerupai) mereka dan yang meniru (menyerupai) mereka. Seseorang diuji menurut kadar agamanya. Kalau agamanya tipis (lemah) dia diuji sesuai dengan itu (ringan) dan bila imannya kokoh dia diuji sesuai itu (keras). Seorang diuji terus-menerus sehingga dia berjalan di muka bumi bersih dari dosa-dosa. (HR. Bukhari).
Ujian dan cobaan juga merupakan cara Allah swt. untuk menutupi kekurangan amal kita, menempa kita menjadi diri yang lebih baik, serta meletakkan kita pada posisi yang lebih baik, di dunia dan akhirat. Seperti yang disabdakan oleh Rasulullah saw.:
Seorang hamba memiliki suatu derajat di surga. Ketika dia tidak dapat mencapainya dengan amal-amal kebaikannya maka Allah menguji dan mencobanya agar dia mencapai derajat itu. (HR. Ath-Thabrani).
Apabila Aku menguji hambaKu dengan membutakan kedua matanya dan dia bersabar maka Aku ganti kedua matanya dengan surga. (HR. Ahmad).
Allah menguji hamba-Nya dengan menimpakan musibah sebagaimana seorang menguji kemurnian emas dengan api (pembakaran). Ada yang ke luar emas murni. Itulah yang dilindungi Allah dari keragu-raguan. Ada juga yang kurang dari itu (mutunya) dan itulah yang selalu ragu. Ada yang ke luar seperti emas hitam dan itu yang memang ditimpa fitnah (musibah). (HR. Ath-Thabrani).
Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 286 menyebutkan bahwa “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya…”. Maka seberat apapun ujian yang kita terima, kita pasti mampu melewatinya.  Hanya saja, terkadang kita tidak menyadari sekuat apa diri kita, sebesar apa potensi dalam diri kita. Allah lebih mengetahui kemampuan kita, dan Dia bersama kita dalam setiap kesulitan, juga menjanjikan adanya kemudahan setelah setiap kesulitan, jika kita tidak menyerah menghadapinya. Memohonlah kepada-Nya dan bersabarlah, niscaya rahmat, berkah, dan keselamatan akan kita dapatkan.
Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. (QS. Al-Insyirah: 6).
Barangsiapa diuji lalu bersabar, diberi lalu bersyukur, dizalimi lalu memaafkan dan menzalimi lalu beristighfar maka bagi mereka keselamatan dan mereka tergolong orang-orang yang memperoleh hidayah. (HR. Al-Baihaqi).
Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (Yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun” . Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS. Al-Baqarah: 155-157)

Wednesday, November 3, 2010

Tentang Qurban

Menyambut Hari Raya Idul Adha, mari kita perkaya pengetahuan kita tentang salah satu ibadah utama saat Idul Adha yaitu berkurban. :)
Katakanlah: sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. (QS.6:162)

Dalam istilah ilmu fiqih hewan qurban biasa disebut dengan nama Al Udh-hiyah. Udh-hiyah adalah hewan ternak yang disembelih pada hari Iedul Adha dan hari Tasyriq dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah karena datangnya hari raya tersebut (lihat Al Wajiz, 405 dan Shahih Fiqih Sunnah II/366)

Keutamaan Qurban

Dari Aisyah r.a. Rasulullah s.a.w. bersabda:"Amal yang paling disukai Allah pada hari penyembelihan adalah mengalirkan darah hewan qurban, sesungguhnya hewan yang diqurbankan akan datang (dengan kebaikan untuk yang melakukan qurban) di hari kiamat kelak dengan tanduk-tanduknya, bulu dan tulang-tulangnya, sesunguhnya (pahala) dari darah hewan qurban telah datang dari Allah sebelum jatuh ke bumi, maka lakukanlah kebaikan ini".(H.R. Tirmidzi).

Hadist Ibnu Abbas Rasulullah bersabda:"Tiada sedekah uang yang lebih mulia dari yang dibelanjakan untuk qurban di hari raya Adha"(H.R. DaruQutni).

Menyembelih qurban termasuk amal salih yang paling utama.

Ibunda ‘Aisyah radhiyallahu‘anha menceritakan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah anak Adam melakukan suatu amalan pada hari Nahr (Iedul Adha) yang lebih dicintai oleh Allah melebihi mengalirkan darah (qurban), maka hendaknya kalian merasa senang karenanya.” (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah dan Al Hakim dengan sanad shohih. Lihat Taudhihul Ahkam, IV/450)

Banyak ulama menjelaskan bahwa menyembelih hewan qurban pada hari idul Adha lebih utama daripada sedekah yang senilai dengan harga hewan qurban atau bahkan sedekah yang lebih banyak dari pada nilai hewan qurban. Karena maksud terpenting dalam berqurban adalah mendekatkan diri kepada Allah. Di samping itu, menyembelih qurban lebih menampakkan syi’ar islam dan lebih sesuai dengan sunnah. (Lihat Shahih Fiqh Sunnah 2/379 & Syarhul Mumthi’ 7/521)

Hukum Qurban

Dalam hal ini para ulama terbagi dalam dua pendapat. Ada yang mengatakan hukumnya wajib bagi orang yang berkecukupan dan ada pula yang mengatakan hukumnya sunnah mu’akkad (ditekankan). Sebagian ulama memberikan jalan keluar dari perselisihan ini dengan menasehatkan, “…selayaknya bagi mereka yang mampu, tidak meninggalkan berqurban. Karena dengan berqurban akan lebih menenangkan hati dan melepaskan tanggungan, wallahu a’lam.” (Tafsir Adwa’ul bayan, 1120).

Yakinlah…! bagi mereka yang berqurban, Allah akan segera memberikan ganti biaya qurban yang dia keluarkan. Karena setiap pagi Allah mengutus dua malaikat, yang satu berdo’a: “Yaa Allah, berikanlah ganti bagi orang yang berinfaq.” Dan yang kedua berdo’a: “Yaa Allah, berikanlah kehancuran bagi orang yang menahan hartanya (pelit).” (HR. Bukhari 1374 & Muslim 1010).

Hewan Yang Boleh Digunakan Untuk Qurban

Hewan qurban hanya boleh dari kalangan Bahiimatul Al An’aam (hewan ternak tertentu) yang terdiri dari onta, sapi atau kambing dan tidak boleh selain itu. Bahkan sekelompok ulama menukilkan adanya ijma’ kesepakatan) bahwasanya qurban tidak sah kecuali dengan hewan-hewan tersebut (lihat Shahih Fiqih Sunnah, II/369 dan Al Wajiz 406)

Seekor Kambing Untuk Satu Keluarga

Seekor kambing cukup untuk qurban satu keluarga, dan pahalanya mencakup seluruh anggota keluarga meskipun jumlahnya banyak atau bahkan yang sudah meninggal dunia. Sebagaimana hadits Abu Ayyub radhiyallahu’anhu yang mengatakan, ”Pada masa Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam seseorang (suami) menyembelih seekor kambing sebagai qurban bagi dirinya dan keluarganya.” (HR. Tirmidzi dan beliau menilainya shahih. Lihat Minhaajul Muslim, 264 dan 266).

Oleh karena itu, tidak selayaknya seseorang mengkhususkan qurban untuk salah satu anggota keluarganya tertentu, misalnya kambing 1 untuk anak si A, kambing 2 untuk anak si B… karunia dan kemurahan Allah sangat luas maka tidak perlu dibatasi.

Bahkan Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam berqurban untuk dirinya dan seluruh umatnya. Suatu ketika beliau hendak menyembelih kambing qurban. Sebelum menyembelih beliau mengatakan, “Yaa Allah ini – qurban – dariku dan dari umatku yang tidak berqurban.” (HR. Abu Daud 2810 & Al Hakim 4/229 dan dishahihkan Syaikh Al Albani dalam Al Irwa’ 4/349).

Berdasarkan hadits ini, Syaikh Ali bin Hasan Al Halaby mengatakan, “Kaum muslimin yang tidak mampu berqurban, mendapatkan pahala sebagaimana orang berqurban dari umat Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam.”

Adapun yang dimaksud: “…kambing hanya boleh untuk satu orang, sapi untuk tujuh orang, dan onta 10 orang…” maksudnya adalah biaya pengadaannya. Biaya pengadaan kambing hanya boleh dari satu orang, biaya pengadaan sapi hanya boleh dari maksimal tujuh orang, dst.

Ketentuan Untuk Sapi & Onta

Seekor sapi dijadikan qurban untuk 7 orang. Sedangkan seekor onta untuk 10 orang. Dari Ibnu Abbas radhiyallahu’anhu beliau mengatakan, ”Dahulu kami penah bersafar bersama Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam lalu tibalah hari raya Iedul Adha maka kami pun berserikat sepuluh orang untuk qurban seekor onta. Sedangkan untuk seekor sapi kami berserikat sebanyak tujuh orang.” (Shahih Sunan Ibnu Majah 2536, Al Wajiz, hal. 406).

Dalam masalah pahala, ketentuan qurban sapi sama dengan ketentuan qurban kambing. Artinya urunan 7 orang untuk qurban seekor sapi, pahalanya mencakup seluruh anggota keluarga dari 7 orang yang ikut urunan.

Wallahu a’lam.

Sumber: http://www.percikaniman.org/detail_artikel.php?cPub=Hits&cID=588

Monday, August 30, 2010

Hukum Seorang Wanita Menambahkan Nama Suaminya di Belakang Namanya

Setelah menikah, terkadang seorang wanita mengganti namanya belakangnya atau nama keluarganya dengan nama suaminya. Hal ini juga banyak dilakukan di negara-negara barat, seperti istrinya Bill Clinton: Hillary Clinton yang nama aslinya Hillary Diane Rodham; istrinya Barrack Obama: Michelle Obama yang nama aslinya Michelle LaVaughn Robinson, dan lain-lain.


Lalu bagaimanakah pendapat para ulama tentang masalah ini?

Fatwa Lajnah Da’imah:

Fatawa al-Lajnah ad-Da’imah lil Buhutsil Ilmiyyah wal Ifta’ juz 20 halaman 379.


Pertanyaan :
Telah umum di sebagian negara, seorang wanita muslimah setelah menikah menisbatkan namanya dengan nama suaminya atau laqobnya. Misalnya: Zainab menikah dengan Zaid, Apakah boleh baginya menuliskan namanya : Zainab Zaid? Ataukah hal tersebut merupakan budaya barat yang harus dijauhi dan berhati-hati dengannya?

Jawab :
Tidak boleh seseorang menisbatkan dirinya kepada selain ayahnya.

Alloh subhanahu wa ta’ala berfirman:
ادْعُوهُمْ لِآبَائِهِمْ هُوَ أَقْسَطُ عِنْدَ اللَّهِ
“Panggillah mereka (anak-anak angkat itu) dengan memakai nama bapak-bapak mereka, itulah yang lebih adil di sisi Allah.” [QS al-Ahzab: 5]

Sungguh telah datang ancaman yang keras bagi orang yang menisbatkan kepada selain ayahnya. Maka dari itu tidak boleh seorang wanita menisbatkan dirinya kepada suaminya sebagaimana adat yang berlaku pada kaum kuffar dan yang menyerupai mereka dari kaum muslimin.
وبالله التوفيق، وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم
al-Lajnah ad-Da’imah lil Buhutsil Ilmiyyah wal Ifta’
Ketua : Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz
Wakil : Abdul Aziz Alu Syaikh
Anggota :
Abdulloh bin ghudayyan
Sholih al-Fauzan
Bakr Abu Zaid
فتاوى اللجنة الدائمةالسؤال الثالث من الفتوى رقم ( 18147 )
س3: قد شاع في بعض البلدان نسبة المرأة المسلمة بعد الزواج إلى اسم زوجها أو لقبه، فمثلا تزوجت زينب زيدا، فهل يجوز لها أن تكتب: (زينب زيد)، أم هي من الحضارة الغربية التي يجب اجتنابها والحذر منها؟
ج3: لا يجوز نسبة الإنسان إلى غير أبيه، قال تعالى: { ادْعُوهُمْ لِآبَائِهِمْ هُوَ أَقْسَطُ عِنْدَ اللَّهِ } (1) وقد جاء الوعيد الشديد على من انتسب إلى غير أبيه. وعلى هذا فلا يجوز نسبة المرأة إلى زوجها كما جرت العادة عند الكفار، ومن تشبه بهم من المسلمين
وبالله التوفيق، وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم.
اللجنة الدائمة للبحوث العلمية والإفتاء
عضو … عضو … عضو … نائب الرئيس … الرئيس
بكر أبو زيد … صالح الفوزان … عبد الله بن غديان … عبد العزيز آل الشيخ … عبد العزيز بن عبد الله بن باز
Fatwa Syaikh Sholih al-Fauzan hafidzohulloh

Pertanyaan :
Apakah boleh seorang wanita setelah menikah melepaskan nama keluarganya dan mengambil nama suaminya sebagaimana orang barat?

Jawab :
Hal itu tidak diperbolehkan, bernasab kepada selain ayahnya tidak boleh, haram dalam islam.
Haram dalam islam seorang muslim bernasab kepada selain ayahnya baik laki-laki atau wanita. Dan baginya ancaman yang keras dan laknat bagi yang melakukannya yaitu yang bernasab kepada selain ayahnya hal itu tidak boleh selamanya.

Dari kaset Syarh Mandhumatul Adab Syaikh al-Fauzan Hafidhohulloh
السؤالهل يجوز للمرأة بعد الزواج ان تتنازل عن اسمها العائلي وتاخذ اسم زوجها كما هو الحال في الغرب؟الجواب هذا لا يجوز الانتساب الى غير الاب لا يجوز حرام في الاسلام
حرام في الاسلام ان المسلم ينتسب الى غير ابيه سواءا كان رجلا ام امرأة وهذا عليه وعيد شديد وملعون من فعله الذي ينتسب الى غير مواليه او ينتسب الى غير ابيه هذا لا يجوز ابدا
من شريط شرح منظومة الآداب للشيخ الفوزان حفظه الله
Fatwa Syaikh Muhammad Ali Farkus hafidzohulloh

Pertanyaan :
Apakah wajib secara syar’i bagi seorang wanita menyertakan nama suaminya atau sebisa mungkin tetap menggunakan nama aslinya?

Jawab :
:الحمد لله ربِّ العالمين، والصلاة والسلام على من أرسله الله رحمة للعالمين، وعلى آله وصحبه وإخوانه إلى يوم الدين، أمَّا بعد
Tidak boleh dari segi nasab seseorang bernasab kepada selain nasabnya yang asli atau mengaku keturunan dari yang bukan ayahnya sendiri. Sungguh islam telah mengharamkan seorang ayah mengingkari nasab anaknya tanpa sebab yang benar secara ijma’.

Alloh berfirman :
ادْعُوهُمْ لآبَائِهِمْ هُوَ أَقْسَطُ عِندَ اللهِ فَإِن لَّمْ تَعْلَمُوا آبَاءَهُمْ فَإِخْوَانُكُمْ فِي الدِّينِ وَمَوَالِيكُمْ وَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ فِيمَا أَخْطَأْتُم بِهِ وَلَكِن مَّا تَعَمَّدَتْ قُلُوبُكُمْ وَكَانَ اللهُ غَفُورًا رَّحِيمًا

Dan sabda nabi shollallohu alaihi wa sallam :
مَنِ ادَّعَى إِلَى غَيْرِ أَبِيهِ أَوْ انْتَمَى إِلَى غَيْرِ مَوَالِيهِ، فَعَلَيْهِ لَعْنَةُ اللهِ وَالمَلاَئِكَةِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ، لاَ يَقْبَلُ اللهُ مِنْهُ يَوْمَ القِيَامَةِ صَرْفًا وَلاَ عَدْلاً
“Barang siapa yang mengaku sebagai anak kepada selain bapaknya atau menisbatkan dirinya kepada yang bukan walinya, maka baginya laknat Alloh, malaikat, dan segenap manusia. Pada hari Kiamat nanti, Alloh tidak akan menerima darinya ibadah yang wajib maupun yang sunnah”

Dikeluarkan oleh Muslim dalam al-Hajj (3327) dan Tirmidzi dalam al-Wala’ wal Habbah bab Ma ja’a fiman tawalla ghoiro mawalihi (2127), Ahmad (616) dari hadits Ali bin Abi Tholib rodhiyallohu anhu.

Dan dalam riwayat yang lain :

مَنِ ادَّعَى إِلَى غَيْرِ أَبِيهِ وَهُوَ يَعْلَمُ أَنَّهُ غَيْرُ أَبِيهِ، فَالجَنَّةُ عَلَيْهِ حَرَامٌ
“Barang siapa bernasab kepada selain ayahnya dan ia mengetahui bahwa ia bukan ayahnya, maka surga haram baginya.”

Dikeluarkan oleh Bukhori dalam al-Maghozi bab : Ghozwatuth Tho`if (3982), Muslim dalam “al-Iman” (220), Abu Dawud dalam “al-Adab” (bab Bab Seseorang mengaku keturunan dari yang bukan bapaknya (5113) dan Ibnu Majah dalam (al-Hudud) bab : Bab orang yang mengaku keturunan dari yang bukan bapaknya atau berwali kepada selain walinya (2610) dan Ibnu Hibban (415) dan Darimi (2453) dan Ahmad (1500) dan hadits Sa’ad bin Abi Waqqosh dan Abu Bakroh rodhiyallohu anhuma.

Maka tidak boleh dikatakan : Fulanah bintu Fulan sedangkan ia bukan anaknya, tetapi boleh dikatakan : Fulanah zaujatu Fulan (Fulanah istrinya si Fulan) atau tanggungannya si Fulan atau wakilnya Fulan. Dan jika tidak disebutkan idhofah-idhofah ini -dan hal ini sudah diketahui & biasa- maka sesungguhnya apa-apa yang berlaku dalam adat, itulah yang dipertimbangkan dalam syari’at-.
والعلمُ عند الله تعالى، وآخر دعوانا أنِ الحمد لله ربِّ العالمين، وصلى الله على نبيّنا محمّد وعلى آله وصحبه وإخوانه إلى يوم الدين، وسلّم تسليمًا
Makkah, 4 Syawwal 1427 H
Bertepatan dengan 16 Oktober 2006 M
***
السؤال: هل الواجبُ على المرأةِ حملُ لقبِ زوجِها شرعًا أم بإمكانها البقاء على لقبها الأصليِّ ؟الجوابالحمد لله ربِّ العالمين، والصلاة والسلام على من أرسله الله رحمة للعالمين، وعلى آله وصحبه وإخوانه إلى يوم الدين، أمَّا بعد:
فلا يجوزُ من حيث النسبُ أن يُنْسَبَ المرءُ إلى غير نسبه الأصلي أو يُدَّعَى إلى غير أبيه، فقد حَرَّم الإسلام على الأب أن يُنْكِرَ نَسَبَ ولدِه بغير حقٍّ إجماعًا، لقوله تعالى: ﴿ادْعُوهُمْ لآبَائِهِمْ هُوَ أَقْسَطُ عِندَ اللهِ فَإِن لَّمْ تَعْلَمُوا آبَاءَهُمْ فَإِخْوَانُكُمْ فِي الدِّينِ وَمَوَالِيكُمْ وَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ فِيمَا أَخْطَأْتُم بِهِ وَلَكِن مَّا تَعَمَّدَتْ قُلُوبُكُمْ وَكَانَ اللهُ غَفُورًا رَّحِيمًا﴾ [الأحزاب: 5]، ولقوله صلى الله عليه وآله وسلم: «مَنِ ادَّعَى إِلَى غَيْرِ أَبِيهِ أَوْ انْتَمَى إِلَى غَيْرِ مَوَالِيهِ، فَعَلَيْهِ لَعْنَةُ اللهِ وَالمَلاَئِكَةِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ، لاَ يَقْبَلُ اللهُ مِنْهُ يَوْمَ القِيَامَةِ صَرْفًا وَلاَ عَدْلاً»(١- أخرجه مسلم في «الحج» (3327)، والترمذي في «الولاء والهبة» باب: باب ما جاء فيمن تولى غير مواليه (2127)، وأحمد (616)، من حديث علي بن أبي طالب رضي الله عنه، وفي رواية أخرى: «مَنِ ادَّعَى إِلَى غَيْرِ أَبِيهِ وَهُوَ يَعْلَمُ أَنَّهُ غَيْرُ أَبِيهِ، فَالجَنَّةُ عَلَيْهِ حَرَامٌ»(٢- أخرجه البخاري في «المغازي» باب: غزوة الطائف (3982)، ومسلم في «الإيمان» (220)، وأبو داود في «الأدب» باب: باب في الرجل ينتمي إلى غير مواليه (5113)، وابن ماجه في «الحدود» باب: باب من ادعى إلى غير أبيه أو تولى غير مواليه (2610)، وابن حبان (415)، والدارمي (2453)، وأحمد (1500)، من حديث سعد بن أبي وقاص وأبي بكرة رضي الله عنهما) ، فإذا كان لا يجوز أن يقال: فلانة بنت فلان وهي ليست ابنته، ولكن يجوز أن يقال: فلانة زوجة فلان أو مكفولة فلان أو وكيلة عن فلان، فإذا لم تذكر هذه الإضافات -وكانت معروفة معهودة- «فإنّ ما يجري بالعرف يجري بالشرع».
والعلمُ عند الله تعالى، وآخر دعوانا أنِ الحمد لله ربِّ العالمين، وصلى الله على نبيّنا محمّد وعلى آله وصحبه وإخوانه إلى يوم الدين، وسلّم تسليمًا.
مكة في: 4 شـوال 1427ﻫ
الموافق ﻟ: 26 أكتوبر 2006م
Lalu, Bagaimana yang disyariatkan?

Yang disunnahkan adalah menggunakan nama kunyah (baca: kun-yah), sebagaimana telah tsabit dalam banyak hadits, dan ini jelas lebih utama daripada menggunakan laqob/julukan-julukan yang berasal dari adat barat ataupun ‘ajam. Sebagaimana yang dikatakan oleh syaikh al-Albani rohimahulloh dalam Silsilah al-Ahaadits ash-Shohihah no. 132 :

Rosululloh shollallohu alahi wa sallam bersabda :
اكْتَنِي [بابنك عبدالله – يعني : ابن الزبير] أَنْتِ أُمَّ عَبْدِ اللَّهِ
“Berkun-yahlah [dengan anakmu –yakni: Ibnu Zubair] kamu adalah Ummu Abdillah” [Lihat ash-Shohihah no. 132]

Dikeluarkan oleh al-Imam Ahmad : haddatsana Abdurrozzaq (bin Hammam, pent), haddatsana Ma’mar (bin Rosyid, pent) dari Hisyam (bin ‘Urwah, pent), dari bapaknya (Urwah bin Zubair, pent) : bahwa ‘Aisyah berkata kepada Nabi shollallohu alaihi wa sallam :

يَا رَسُولَ اللَّهِ كُلُّ نِسَائِكَ لَهَا كُنْيَةٌ غَيْرِي فَقَالَ لَهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  فذكره بدون الزيادة

“Wahai Rasulullah, semua istrimu selain aku memiliki kun-yah”, lalu Rasulullah shollallohu alaihi wa sallam bersabda kepadanya : (lalu beliau menyebutkan hadits ini tanpa tambahan).

Berkata (Urwah, pent) : Ketika itu ‘Aisyah disebut sebagai Ummu Abdillah sampai ia meninggal dan ia tidak pernah melahirkan sama sekali.

Berdasarkan hadits ini, disyariatkan berkun-yah walaupun seseorang tidak memiliki anak, ini merupakan adab Islami yang tidak ada bandingannya pada ummat lainnya sejauh yang aku ketahui. Maka sepatutnya bagi kaum muslimin untuk berpegang teguh padanya, baik laki-laki maupun wanita, dan meninggalkan apa yang masuk sedkit demi sedikit kepada mereka dari adat-adat kaum ‘Ajam seperti al-Biik (البيك), al-Afnadi (الأفندي), al-Basya (الباشا), dan yang semisal itu seperti al-Misyu (المسيو), as-Sayyid (السيد), as-Sayyidah (السيدة), dan al-Anisah (الآنسة), ketika semua itu masuk ke dalam Islam. Dan para fuqoha’ al-Hanafiyyah telah menegaskan tentang dibencinya al-Afnadi (الأفندي) karena di dalamnya terdapat tazkiyah, sebagaimana dalam kitab ‘Hasyiyah Ibnu Abidin’. Dan Sayyid hanya saja dimutlaqkan atas orang yang memiliki kepemimpinan atau jabatan, dan pada masalah ini terdapat hadits (قوموا إلى سيدكم) “Berdirilah kepada (tolonglah, pent) sayyid kalian”, dan telah berlalu pada nomor 66 (dalam ash-Shohihah, pent) dan tidak dimutlakkan atas semua orang karena ini juga masuk pada bentuk tazkiyah.

Faidah : adapun hadits yang diriwayatkan dari ‘Aisyah rodhiyallohu anha bahwa bahwa ia mengalami keguguran dari Nabi shollallohu alaihi wa sallam, lalu ia menamainya (janin yang gugur tersebut, pent) Abdulloh, dan ia berkun-yah dengannya, maka hadits tersebut bathil secara sanad dan matan. Dan keterangannya ada pada adh-Dho’ifah jilid ke-9. -Selesai perkataan syaikh al-Albani rohimahulloh-

Maroji‘:
alifta.net – Fatwa Lajnah Da’imah
Sahab.net – Fatwa Syaikh Sholeh Fauzan
Ferkous.com – Fatwa Syaikh Farkus
Tholib.wordpress.com – Perkataan Syaikh al-Albani
***

Wednesday, May 5, 2010

Pentingnya Pendidikan Perempuan (part 2)

Sebelum saya membahas lebih lanjut tentang pentingnya pendidikan perempuan, saya akan menjelaskan mengapa saya memakai istilah "perempuan", ketimbang "wanita". Dalam kosakata sehari-hari pun, saya menghindari menggunakan "wanita" dan selalu menggunakan kata "perempuan". Karena, konon kata perempuan bisa diartikan menjadi "per-EMPU-an", dimana kata "empu" memiliki makna sebagai seorang/sesuatu yang penting/bernilai, seperti diungkapkan oleh Djauharah Bawazir:
"Apabila kita mengurai kata perempuan, akan kita temukan akar kata empu yang mendapat awalan per dan akhiran an. Sementara kata empu pada kamus bahasa Indonesia susunan W.J.S Poerwodarminto diartikan seagai tuan atau orang ahli. Sedangkan dalam bahasa Jawa, kata empu juga jadi sebutan bagi bagian awal/yang ada lebih dahulu dari beragai temu (bahan bumbu masak atau jamu, seperti kunyit, jahe, kunci, atau lainnya) yang dari situ akan tumbuh tunas-tunas atau disebut juga entik. Empu akan meberikan makanan dan menjaga pertumbuhan tunas-tunas itu sampai mereka siap hidup dipisahkan dari sang empu untuk nantinya merekapun akan menumbuhkan tunas-tunas baru, dan mereka masing-masing akan menjadi empu. Orang  yang ahli membuat jamu pasti  akan mencari empu, bukan entik, karena empu mempunyai kualitas yang luar biasa dibanding dengan entiknya. Baik dari rasa, kandungan maupun khasiatnya. Nah, per-empu-an bisa diartikan sebagai orang terhormat yang mempunyai kualitas luar biasa, dari segi kemampuan, keuletan, kegigihan dan kesabaran, termasuk kesediaan menanggung resiko."
Dengan demikian, menggunakan kata "perempuan" buat saya pribadi memberikan kehormatan sendiri bagi perempuan.

Pendidikan memang penting bagi seluruh manusia. Pendidikan dapat diartikan menjadi tarbiyah, yang berasal dari kata "rabb" yang bisa diartikan menjadi  membina, menjaga, memelihara. Seperti kita ketahui, Rabb adalah salah satu sifat Allah SWT yang senantiasa membina, menjaga dan memelihara segalanya di alam semesta ini. Tarbiyah sendiri menjadi penting dan sesuatu yang dibutuhkan bagi manusia karena beberapa hal. Pertama, manusia pada fitrahnya selalu membutuhkan nasihat. Ini dihubungkan dengan faktor kedua, yaitu bahwa manusia memiliki sifat pelupa, lemah dan bodoh. Karena sifat-sifat inilah manusia terus harus dan pada dasarnya ingin ditempa sehingga menjadi kuat dan baik. Selain itu, yang ketiga, manusia butuh hidup berkelompok. Proses tarbiyah adalah sesuatu yang tidak bisa dilakukan sendirian. Kita butuh orang lain untuk mengajarkan kita, seperti mungkin orang lain butuh kita untuk bisa menunjukkan dia kepada kebaikan.

Mengapa pendidikan menjadi begitu penting, khususnya bagi perempuan? Karena perempuan adalah pembentuk generasi dan menciptakan peradaban. Setiap manusia yang pernah ada di muka bumi ini, kecuali Nabi Adam AS dan Siti Hawa, berasal dari rahim seorang ibu -- seorang perempuan. Adanya kita selama sembilan bulan dikandung di dalam rahim ibu kita, membuat kita memiliki hubungan yang sangat istimewa dengan ibu kita. Anak-anak pun, dalam perkembangannya sangat dipengaruhi oleh ibu, dimulai dari sejak awal proses konsepsinya. Misalnya kondisi kerohanian pada saat pembuahan bisa jadi mempengaruhi perkembangan janin dan proses kelahiran itu sendiri. Maka dari itu dianjurkan kepada pasangan suami-istri yang hendak bersenggama untuk berdoa agar dihindarkan dari setan dan dijadikan hubungan tersebut--dan hasilnya kelak--sebagai rezeki, sebagaimana sabda Rasulullah SAW:
"Seandainya salah seorang diantara kamu apabila ingin berhubungan dengan keluarganya membaca--Allahumma jannibna asy-syaithaan wa jannib asy-syaithaan 'ammaa razaqtanaa, (Ya Allah, jauhkanlah kami dari setan, dan jauhkan pula setan dari rezeki yang engkau anugerahkan kepada kami)--maka jika hasil dari hubungan itu menghasilkan anak, maka setan tidak akan mengganggunya sama sekali." (HR. Bukhari)
 Selain itu, hendaknya kita merujuk kepada firman Allah SWT dalam ayat sbb:
"Istri-istrimu adalah ladang bagimu..." (Q.S. Al Baqarah 2:223)
Firman Allah SWT tersebut mengkiaskan bahwa istri adalah ladang dan suami adalah petaninya. Bibit yang ditanam sang petani, betapapun bagusnya, hanya akan dapat memberikan hasil yang baik saat panen jika ladang yang digarap adalah baik tanahnya. Begitupun dalam kehidupan berkeluarga, anak hasil pembuahan pun akan berkualitas baik apabila tempat yang dikandungnya dalam kondisi yang bagus pula, baik fisik maupun rohaninya. Jika perempuan yang akan menjadi ibu ini dibekali dengan pendidikan/tarbiyah yang baik, maka yang jelas ia akan lebih kaya dalam ilmu dan wawasan. Allah SWT berfirman:
"Hai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepadamu: "Berlapang-lapanglah dalam majelis", maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan." (Q.S. Al Mujaadilah 58:11)
Maka Allah SWT akan meninggikan  derajat orang-orang yang memiliki ilmu pengetahuan, yaitu mereka yang beriman dan menghiasi diri mereka dengan ilmu pengetahuan. Seperti diuraikan M. Quraish Shihab dalam Tafsir Al Mishbah ayat ini, ilmu yang dimaksud disini adalah segala apapun ilmu yang bermanfaat, bukan hanya terbatas pada ilmu agama saja. Rasulullah SAW pun pernah bersabda tentang kedudukan orang berilmu (dan beriman) dibandingkan dengan orang yang beriman saja:
"Kelebihan orang berilmu dibandingkan dengan 'abid (seorang ahli ibadah) adalah tujuh puluh derajat." (HR. Ashbihaani)
Maka ilmu menjadi cahaya dalam langkah manusia, membuat manusia takut dan kagum kepada Allah SWT dan meninggikan derajat manusia. Dengan ilmu, keimanan dapat meningkat, begitupun dengan produktivitas kita. Dalam konteks peranan perempuan di keluarga, dengan ilmu yang dimiliki, perempuan sebagai istri dapat lebih mendukung suami dalam dakwah, dan dapat meraih kesuksesan dalam mendidik anak-anaknya. Ia memiliki pemahaman yang baik tentang menjadi istri yang shalihah, dan senantiasa bahu-membahu bersama suami dalam melaksanakan amar ma'ruf nahi munkar, sebagaimana Allah SWT telah berfirman:
"Dan orang-orang yang beriman, laki-laki dan perempuan, sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh (berbuat) yang ma'ruf, dan mencegah dari yang mungkar, melaksanakan salat menunaikan zakat, dan taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka akan diberi rahmat oleh Allah. Sunggu, Allah Mahaperkasa, Mahabijaksana." (Q.S. At Taubah 9:71).
Dalam mendidik anak-anaknya, perempuan yang berpendidikan juga memiliki kesempatan yang lebih baik dalam menghasilkan anak-anak menjadi generasi rabbani, shalih dan muslih. Anak-anak tidak hanya menjadi qurrata 'Ayun penyejuk mata dan hati, tetapi juga menjadi rahmat. Keimanan anak-anak dan keturunannya membuat keluarga saling terhubung dalam keimanan baik di dunia, maupun akhirat, sesuai firman Allah SWT: 
"Dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikit pun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya." (Q.S. At Thuur 52:21)
Sehingga sekeluarga pun dapat berkumpul kembali di dalam Surga-Nya, sebagaimana Allah SWT telah berfirman sbb:
"Surga Adn yang mereka masuk ke dalamnya bersama-sama dengan orang-orang yang saleh dari bapak-bapaknya, istri-istrinya dan anak cucunya, sedang malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu" (Q.S. Ar Ra'd 13:23)
Selain itu, perempuan juga memiliki peranan dalam masyarakat. Selain sebagai pembentuk generasi rabbani, perempuan dalam sendirinya dapat memiliki peranan yang penting sebagai anggota masyarakat. Perempuan yang meraih pendidikan akan lebih kritis dan aware terhadap lingkungannya, berusaha sebaik mungkin untuk memperbaiki kondisi masyarakat dan lingkungan di tempat dia berada. Ini dengan sendirinya juga akan meningkatkan kualitas masyarakat dan peradaban itu sendiri menuju masyarakat yang madani. Akhirul kata, semoga para perempuan lebih semangat dan istiqamah dalam menuntut ilmu yang bermanfaat, dan bagi perempuan yang telah dianugerahi Allah dengan kemampuan dan kekayaan ilmu dan wawasan yang lebih, semoga dapat lebih memanfaatkannya untuk perwujudan rasa cinta dan khasyah, takut dan kagumnya kepada Allah SWT, dan menjadikannya sarana untuk kebaikan ummat dan agamanya.  Allahumma innii audzubika min 'ilmi laa yanfa' (Ya Allah, aku berlindung kepadaMu dari ilmu yang tidak bermanfaat)

Thursday, April 1, 2010

Renungan buat para perempuan dan laki-laki

Jangankan lelaki biasa, Nabi pun terasa sunyi tanpa wanita. Tanpa kehadiran mereka maka hati, pikiran, dan perasaan lelaki akan resah. Masih mencari walaupun sudah ada segala-galanya. Apalagi yang tidak ada di syurga, namun Nabi Adam a.s. tetap merindukan Siti Hawa.

Kepada wanitalah lelaki memanggil ibu, istri atau puteri. Wanita dijadikan dari tulang rusuk yang bengkok untuk diluruskan oleh lelaki, tetapi kalau lelaki sendiri yang tidak lurus, tidak mungkin mampu meluruskan mereka. Tak logis kayu yang bengkok dapat menghasilkan bayang-bayang yang lurus. Luruskanlah wanita dengan petunjuk Allah. Didiklah mereka dengan panduan dariNya : JANGAN COBA JINAKKAN MEREKA DENGAN HARTA, NANTI MEREKA SEMAKIN LIAR. JANGAN HIBUR MEREKA DENGAN KECANTIKAN, NANTI MEREKA SEMAKIN MENDERITA. Yang bersifat sementara (fana) itu tidak akan menyelesaikan masalah. Kenalkan mereka kepada Allah, Dzat yang Maha Kekal. Di situlah kuncinya. AKAL SETIPIS RAMBUTNYA, MAKA TEBALKAN DENGAN ILMU. HATI SERAPUH KACA, MAKA KUATKAN DENGAN IMAN. PERASAAN SELEMBUT SUTERA, MAKA HIASILAH DENGAN AKHLAK.


Suburkanlah mereka karena dari situlah nanti akan nampak penilaian dan keadilan Tuhan. Akan terhibur dan berbahagialah mereka walaupun tidak jadi ratu cantik dunia, presiden atau perdana menteri negara ataupun women gladiator. Bisikkan ke telinga mereka bahwa kelembutan bukanlah suatu kelemahan. Itu bukan diskriminasi Tuhan. Sebaliknya disitulah kasih sayang Tuhan, karena rahim wanita yang lembut itulah yang mengandung lelaki-lelaki yang menjadi negarawan, karyawan, jutawan dan wan-wan lain.

Tidak akan lahir superman tanpa superwoman. Wanita yang lupa hakikat kejadiannya pasti tidak terhibur dan tidak menghiburkan. Tanpa ilmu, iman dan akhlak, mereka bukan saja tidak bisa diluruskan, bahkan mereka malah membengkokkan. LEBIH BANYAK LELAKI YANG DIRUSAKKAN OLEH PEREMPUAN DARIPADA PEREMPUAN YANG DIRUSAKKAN OLEH LELAKI. SEBODOH-BODOH PEREMPUAN PUN BISA MENUNDUKKAN SEPANDAI-PANDAI LELAKI.


Itulah akibatnya apabila wanita tidak kenal Tuhan. Mereka tidak akan kenal diri mereka sendiri, apalagi mengenal lelaki. Kini bukan saja banyak boss telah kehilangan secretary, bahkan anak pun akan kehilangan ibu, suami kehilangan istri, dan bapak akan kehilangan puteri. Bila wanita durhaka maka dunia akan huru-hara. Bila tulang rusuk patah, maka rusaklah jantung, hati, dan limpa. Para lelaki jangan pula hanya mengharap ketaatan, tetapi binalah kepemimpinan. Pastikan sebelum memimpin wanita menuju Allah PIMPINLAH DIRI SENDIRI DAHULU KEPADA-NYA. Jinakkan diri kita kepada Allah, maka niscaya jinaklah segala-galanya dibawah pimpinan kita. JANGAN MENGHARAP ISTRI KITA SEPERTI SITI FATIMAH KALAU PRIBADI KITA BELUM SEPERTI SAYIDINA ALI.

Catatan: Jika ada sahabat yang tahu sumber tulisan ini, mohon diinfokan, jazakallahu khayran :)

Tuesday, February 2, 2010

Pentingnya Pendidikan Perempuan (part 1)

Pendidikan memang hak asasi manusia, dan seharusnya setiap manusia berhak mendapatkan pendidikan yang layak. Akan tetapi, pendidikan yang lebih utama adalah pendidikan untuk perempuan. Mengapa? Karena perempuan yang terdidik dari segi ilmu pengetahuan duniawi dan agama, akan sangat mensejahterakan masyarakat.

Namun ini jarang sekali dilihat oleh orang-orang. Dikarenakan, mendidik perempuan tidak langsung "terlihat" manfaatnya. Sebenarnya, pendidikan sendiri merupakan investasi jangka panjang. Untuk perempuan, jangkanya jadi lebih panjang lagi, hehe. Seorang perempuan, nantinya akan menjadi seorang ibu. Secara alamiah, yang terjadi seperti itu. Ibu-lah yang akan mendidik anak-anaknya. Jika perempuan sebagai ibu pintar dalam ilmu Al-Qur'an, hadits, terus juga di sekolah dan kuliah nilainya bagus-bagus (hehe), pasti akan lebih bijak dalam mendidik anak-anaknya. Tidak ada yang namanya anak dibunuh atau disiksa orangtuanya seperti yang banyak diberitakan akhir-akhir ini di media. Naudzubillah min dzalik.

Orangtua yang cerdas, akan menghasilkan anak yg cerdas. Begitu seterusnya. Sehingga beberapa generasi akan menjadi cerdas, dan tentunya mampu berkontribusi dalam menciptakan masyarakat yang madani.

Jadi, buat para perempuan dan Muslimah, jangan ragu kalau mau belajar. Dijamin nggak bakal rugi, malah banyak untungnya, dunia dan akhirat, InsyaAllah. Apalagi kalau nanti anak kita jadinya pinter dan shalih dan mendoakan kita, akan terus kita bawa amalnya meski kita sudah dalam kubur.

End of Part 1. Part 2-nya, nanti dibikin kalo Wichi udah pinter ngomongin masalah ini, biar agak serius gitu :)

Tuesday, January 26, 2010

Surat Untuk Anakku

Bismillahirrahmanirrahim

Anakku,
Saat aku menulis surat ini, aku sedang memikirkan dirimu. Aku cemas memikirkan kelak dunia macam apa yang harus engkau hadapi. Aku sekarang seorang gadis, hanya bisa mempersiapkan diri supaya engkau bisa menghadapi dunia lebih baik dari yang aku alami.

Anakku,
Aku akan menjadi wanita yang paling bahagia saat engkau lahir di dunia, karena Allah telah menitipkan padaku suatu amanah yang akan kuemban dengan seluruh kemampuan yang aku miliki. Dari sekarang, sebelum engkau lahir, aku berdoa agar kelak engkau menjadi rahmatan lil ‘alamin, dan setiap sisi jauh lebih baik dari diriku.

Anakku,
Akan kulakukan segalanya untuk bisa mengantarmu menjadi anak yang shalih, tiada yang kuminta dari dirimu agar engkau senantiasa menjaga dirimu dan imanmu. Ingatlah anakku, meskipun diriku sangat menyayangimu, Allah jauh lebih mengasihimu. Jangan pernah melupakanNya apalagi mengingkariNya. Dan saat aku tidak ada, saat segalanya telah terenggut darimu dan dunia mengucilkanmu, ingat ada satu yang tidak bisa mereka ambil darimu: imanmu. Mereka para pencinta dunia bisa merampas segalanya darimu, dari yang terlihat maupun yang tidak terlihat. Namun imanmu, dan keteguhan yang ada di dalam hatimu, adalah sesuatu yang tidak pernah bisa mereka ambil. Maka jagalah imanmu, anakku, jagalah iman dan hatimu, agar tetap suci, agar tetap dekat dan merindu pada Allah swt. InsyaAllah, Allah pun akan menjagamu tetap kepadaNya.

Anakku,
Saat ini PR-ku masih banyak. Masih banyak buku, kitab dan artikel yang harus kupelajari, majlis yang harus kudatangi, taushiah yang harus kudengar, dan pengalaman hidupku dan orang lain yang harus kuambil hikmahnya… agar aku bisa pantas menjadi ibumu. Aku ingin menjadi ibu yang bisa mendidikmu, mengajarkan kepadamu tentang hakikatmu sebagai manusia. Aku ingin engkau mengenal Penciptamu dan kekasihNya Rasulullah saw. Pelajari, renungkan, dan jalanilah takdirmu sebagai khalifah di bumi ini, yang menyuruh kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran, serta melakukan perbaikan terhadap segala kerusakan yang telah terjadi. Pelajari, renungkan dan jalanilah dengan berpedoman kepada Al-Qur’an dan hadits. Dalam perjalananmu mencari kebenaran, engkau akan dihadapkan pada persimpangan. Engkau akan mengalami batasan-batasan dalam memaknai Kitabullah dan hadits-hadits. Namun tetaplah berpegang pada keyakinan bahwa itulah yang datang dari Allah, tetaplah berdoa agar ditunjukkan yang haq itu haq, dan yang bathil itu bathil.

Anakku,
Persimpangan akan selalu engkau temui nanti. Manusia pada dasarnya bersifat lemah, dengan iman yang bisa naik dan bisa turun. Maka dari itu berdoalah selalu, berdoalah pada Yang Rahman, Sang Maha Pembolak-balik Hati, agar hatimu tetap teguh berpegang pada jalan Allah. Berdoalah agar selalu diberi petunjuk. Tetaplah istiqamah.

Anakku,
Aku berpesan agar engkau menjadi orang yang pengasih. Kasihilah semua saudaramu dan bantulah mereka dengan apa yang kau punya. Ingatlah selalu kepada anak yatim, santuni mereka, meskipun sedikit, dan senantiasa doakan mereka.
Kepada putriku aku khusus berpesan, jadilah perempuan yang pengasih namun tetap berpendirian. Engkau sebagai wanita adalah perhiasan, maka dari itu jagalah dirimu agar tetap indah dan bersinar dengan cahaya iman. Engkau mungkin bertanya mengapa dunia tidak adil bagimu, ketahuilah, jalan Islam yang kau pilih adalah tapak yang paling memuliakan dirimu. Pelajarilah itu, putri cantikku, dan engkau pun akan mengerti.
Kepada putraku aku khusus berpesan, agar menyayangi kami para perempuan. Kelembutan kami, balaslah dengan kelembutanmu juga. Jangan pernah bersikap kasar terhadap kami. Jangan pernah menganggap kami tidak pantas akan hak-hak tertentu apalagi menindas kami. Telah jelas dituangkan dalam kitabNya bahwa perempuan dan laki-laki ada fitrahnya masing-masing. Karena itu, salinglah menghormati satu sama lain, jangan saling menyakiti.

Anakku,
Dunia tidak akan mudah kepadamu nanti. Umat kita terpecah-belah, ditindas dan dizhalimi. Engka akan menghadapi serangan yang bertubi-tubi dari segala sisi, baik yang jelas maupun yang bersembunyi. Setan tidak akan menyerah, anakku. Namun ia juga telah berjanji, bahwa pengaruhnya tidak akan bisa menggerakkan hati yang berserah diri kepada Allah. Jadi anakku, berhati-hatilah terhadap mereka yang ingin melenakanmu dengan nikmat dunia. Berhati-hatilah terhadap mereka yang melecehkan agamamu. Berdoalah untuk kedamaian, sebagai fitrah kita sebagai Muslim, karena agama kita adalah damai. Berjuanglah dengan bijak untuk menegakkan tiang agamamu. Aku tidak meminta banyak, hanya mulai dari yang kecil dan dari hati yang bersungguh-sungguh.

Anakku,
Memang besar harapanmu pada dirimu. Namun tiada beda dari harapan setiap orang tua, agar anaknya bisa lebih baik darinya. Aku berdoa semoga Allah senantiasa mencurahkan rahmatNya kepadamu, mendekatkanmu kepada kebaikan, dan memberkahimu dengan iman dan takwa. Semoga Allah mengabulkan doaku. Amin ya rabbal 'alamin

Jakarta, 26 January 2010 22:35PM
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...