Showing posts with label Life. Show all posts
Showing posts with label Life. Show all posts

Thursday, June 30, 2011

Ujian dan Cobaan: Penggugur Dosa, Penambah Kebaikan

Dalam hidup, kita tidak lepas dari berbagai ujian dan cobaan.  Kadang ujian itu dapat kita lalui tanpa kesulitan berarti. Tapi kadang, cobaan yang kita terima sangat berat sampai rasanya kita tak sanggup menanggungnya.  Pada saat seperti itu, kita mungkin merasa sebagai orang yang paling malang sedunia.  Seakan-akan Allah meninggalkan kita, membiarkan kita terbenam dalam kesulitan.
Namun, Rasulullah saw. bersabda:
Barangsiapa dikehendaki Allah kebaikan baginya maka dia diuji (dicoba dengan suatu musibah). (HR. Bukhari).
Apabila Allah menyenangi hamba maka dia diuji agar Allah mendengar permohonannya (kerendahan dirinya). (HR. Al-Baihaqi).
Tiada seorang mukmin ditimpa rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyakit atau kesedihan (kesusahan) sampai pun duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah menghapus dosa-dosanya. (HR. Bukhari).
Tiada seorang muslim tertusuk duri atau yang lebih dari itu, kecuali Allah mencatat baginya kebaikan dan menghapus darinya dosa. (HR. Bukhari).
Cobaan atau kesulitan terkecil pun, ketika kita menerimanya dengan ikhlas, maka berguguran dosa-dosa kita lagi bertambah kebaikan kita.  Berlawanan dengan apa yang kadang terlintas di pikiran kita, ujian dan cobaan justru merupakan bentuk kasih sayang Allah swt. kepada kita. Ketika mendapat ujian, kita juga mendapat kesempatan untuk mendekatkan diri dan menaikkan derajat kita di hadapan Allah swt.  Semakin berat cobaan kita, semakin besar pula kebaikan yang akan kita terima ketika berhasil melaluinya.
Rasulullah saw. bersabda:
Besarnya pahala sesuai dengan besarnya ujian dan cobaan. Sesungguhnya Allah ‘Azza wajalla bila menyenangi suatu kaum Allah menguji mereka. Barangsiapa bersabar maka baginya manfaat kesabarannya dan barangsiapa murka maka baginya murka Allah. (HR. Tirmidzi).
Sa’ad bin Abi Waqqash berkata, “Aku bertanya kepada Rasulullah Saw, ‘Ya Rasulullah, siapakah orang yang paling berat ujian dan cobaannya?’” Nabi Saw menjawab, “Para nabi kemudian yang meniru (menyerupai) mereka dan yang meniru (menyerupai) mereka. Seseorang diuji menurut kadar agamanya. Kalau agamanya tipis (lemah) dia diuji sesuai dengan itu (ringan) dan bila imannya kokoh dia diuji sesuai itu (keras). Seorang diuji terus-menerus sehingga dia berjalan di muka bumi bersih dari dosa-dosa. (HR. Bukhari).
Ujian dan cobaan juga merupakan cara Allah swt. untuk menutupi kekurangan amal kita, menempa kita menjadi diri yang lebih baik, serta meletakkan kita pada posisi yang lebih baik, di dunia dan akhirat. Seperti yang disabdakan oleh Rasulullah saw.:
Seorang hamba memiliki suatu derajat di surga. Ketika dia tidak dapat mencapainya dengan amal-amal kebaikannya maka Allah menguji dan mencobanya agar dia mencapai derajat itu. (HR. Ath-Thabrani).
Apabila Aku menguji hambaKu dengan membutakan kedua matanya dan dia bersabar maka Aku ganti kedua matanya dengan surga. (HR. Ahmad).
Allah menguji hamba-Nya dengan menimpakan musibah sebagaimana seorang menguji kemurnian emas dengan api (pembakaran). Ada yang ke luar emas murni. Itulah yang dilindungi Allah dari keragu-raguan. Ada juga yang kurang dari itu (mutunya) dan itulah yang selalu ragu. Ada yang ke luar seperti emas hitam dan itu yang memang ditimpa fitnah (musibah). (HR. Ath-Thabrani).
Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 286 menyebutkan bahwa “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya…”. Maka seberat apapun ujian yang kita terima, kita pasti mampu melewatinya.  Hanya saja, terkadang kita tidak menyadari sekuat apa diri kita, sebesar apa potensi dalam diri kita. Allah lebih mengetahui kemampuan kita, dan Dia bersama kita dalam setiap kesulitan, juga menjanjikan adanya kemudahan setelah setiap kesulitan, jika kita tidak menyerah menghadapinya. Memohonlah kepada-Nya dan bersabarlah, niscaya rahmat, berkah, dan keselamatan akan kita dapatkan.
Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. (QS. Al-Insyirah: 6).
Barangsiapa diuji lalu bersabar, diberi lalu bersyukur, dizalimi lalu memaafkan dan menzalimi lalu beristighfar maka bagi mereka keselamatan dan mereka tergolong orang-orang yang memperoleh hidayah. (HR. Al-Baihaqi).
Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (Yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun” . Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS. Al-Baqarah: 155-157)

Wednesday, November 3, 2010

Tentang Qurban

Menyambut Hari Raya Idul Adha, mari kita perkaya pengetahuan kita tentang salah satu ibadah utama saat Idul Adha yaitu berkurban. :)
Katakanlah: sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. (QS.6:162)

Dalam istilah ilmu fiqih hewan qurban biasa disebut dengan nama Al Udh-hiyah. Udh-hiyah adalah hewan ternak yang disembelih pada hari Iedul Adha dan hari Tasyriq dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah karena datangnya hari raya tersebut (lihat Al Wajiz, 405 dan Shahih Fiqih Sunnah II/366)

Keutamaan Qurban

Dari Aisyah r.a. Rasulullah s.a.w. bersabda:"Amal yang paling disukai Allah pada hari penyembelihan adalah mengalirkan darah hewan qurban, sesungguhnya hewan yang diqurbankan akan datang (dengan kebaikan untuk yang melakukan qurban) di hari kiamat kelak dengan tanduk-tanduknya, bulu dan tulang-tulangnya, sesunguhnya (pahala) dari darah hewan qurban telah datang dari Allah sebelum jatuh ke bumi, maka lakukanlah kebaikan ini".(H.R. Tirmidzi).

Hadist Ibnu Abbas Rasulullah bersabda:"Tiada sedekah uang yang lebih mulia dari yang dibelanjakan untuk qurban di hari raya Adha"(H.R. DaruQutni).

Menyembelih qurban termasuk amal salih yang paling utama.

Ibunda ‘Aisyah radhiyallahu‘anha menceritakan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah anak Adam melakukan suatu amalan pada hari Nahr (Iedul Adha) yang lebih dicintai oleh Allah melebihi mengalirkan darah (qurban), maka hendaknya kalian merasa senang karenanya.” (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah dan Al Hakim dengan sanad shohih. Lihat Taudhihul Ahkam, IV/450)

Banyak ulama menjelaskan bahwa menyembelih hewan qurban pada hari idul Adha lebih utama daripada sedekah yang senilai dengan harga hewan qurban atau bahkan sedekah yang lebih banyak dari pada nilai hewan qurban. Karena maksud terpenting dalam berqurban adalah mendekatkan diri kepada Allah. Di samping itu, menyembelih qurban lebih menampakkan syi’ar islam dan lebih sesuai dengan sunnah. (Lihat Shahih Fiqh Sunnah 2/379 & Syarhul Mumthi’ 7/521)

Hukum Qurban

Dalam hal ini para ulama terbagi dalam dua pendapat. Ada yang mengatakan hukumnya wajib bagi orang yang berkecukupan dan ada pula yang mengatakan hukumnya sunnah mu’akkad (ditekankan). Sebagian ulama memberikan jalan keluar dari perselisihan ini dengan menasehatkan, “…selayaknya bagi mereka yang mampu, tidak meninggalkan berqurban. Karena dengan berqurban akan lebih menenangkan hati dan melepaskan tanggungan, wallahu a’lam.” (Tafsir Adwa’ul bayan, 1120).

Yakinlah…! bagi mereka yang berqurban, Allah akan segera memberikan ganti biaya qurban yang dia keluarkan. Karena setiap pagi Allah mengutus dua malaikat, yang satu berdo’a: “Yaa Allah, berikanlah ganti bagi orang yang berinfaq.” Dan yang kedua berdo’a: “Yaa Allah, berikanlah kehancuran bagi orang yang menahan hartanya (pelit).” (HR. Bukhari 1374 & Muslim 1010).

Hewan Yang Boleh Digunakan Untuk Qurban

Hewan qurban hanya boleh dari kalangan Bahiimatul Al An’aam (hewan ternak tertentu) yang terdiri dari onta, sapi atau kambing dan tidak boleh selain itu. Bahkan sekelompok ulama menukilkan adanya ijma’ kesepakatan) bahwasanya qurban tidak sah kecuali dengan hewan-hewan tersebut (lihat Shahih Fiqih Sunnah, II/369 dan Al Wajiz 406)

Seekor Kambing Untuk Satu Keluarga

Seekor kambing cukup untuk qurban satu keluarga, dan pahalanya mencakup seluruh anggota keluarga meskipun jumlahnya banyak atau bahkan yang sudah meninggal dunia. Sebagaimana hadits Abu Ayyub radhiyallahu’anhu yang mengatakan, ”Pada masa Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam seseorang (suami) menyembelih seekor kambing sebagai qurban bagi dirinya dan keluarganya.” (HR. Tirmidzi dan beliau menilainya shahih. Lihat Minhaajul Muslim, 264 dan 266).

Oleh karena itu, tidak selayaknya seseorang mengkhususkan qurban untuk salah satu anggota keluarganya tertentu, misalnya kambing 1 untuk anak si A, kambing 2 untuk anak si B… karunia dan kemurahan Allah sangat luas maka tidak perlu dibatasi.

Bahkan Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam berqurban untuk dirinya dan seluruh umatnya. Suatu ketika beliau hendak menyembelih kambing qurban. Sebelum menyembelih beliau mengatakan, “Yaa Allah ini – qurban – dariku dan dari umatku yang tidak berqurban.” (HR. Abu Daud 2810 & Al Hakim 4/229 dan dishahihkan Syaikh Al Albani dalam Al Irwa’ 4/349).

Berdasarkan hadits ini, Syaikh Ali bin Hasan Al Halaby mengatakan, “Kaum muslimin yang tidak mampu berqurban, mendapatkan pahala sebagaimana orang berqurban dari umat Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam.”

Adapun yang dimaksud: “…kambing hanya boleh untuk satu orang, sapi untuk tujuh orang, dan onta 10 orang…” maksudnya adalah biaya pengadaannya. Biaya pengadaan kambing hanya boleh dari satu orang, biaya pengadaan sapi hanya boleh dari maksimal tujuh orang, dst.

Ketentuan Untuk Sapi & Onta

Seekor sapi dijadikan qurban untuk 7 orang. Sedangkan seekor onta untuk 10 orang. Dari Ibnu Abbas radhiyallahu’anhu beliau mengatakan, ”Dahulu kami penah bersafar bersama Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam lalu tibalah hari raya Iedul Adha maka kami pun berserikat sepuluh orang untuk qurban seekor onta. Sedangkan untuk seekor sapi kami berserikat sebanyak tujuh orang.” (Shahih Sunan Ibnu Majah 2536, Al Wajiz, hal. 406).

Dalam masalah pahala, ketentuan qurban sapi sama dengan ketentuan qurban kambing. Artinya urunan 7 orang untuk qurban seekor sapi, pahalanya mencakup seluruh anggota keluarga dari 7 orang yang ikut urunan.

Wallahu a’lam.

Sumber: http://www.percikaniman.org/detail_artikel.php?cPub=Hits&cID=588

Wednesday, January 27, 2010

Signs of Happiness

Entry taken from my old blog:

 
Today I went to Pengajian Bulanan and Annual General Meeting of Indonesian Islamic Society of Brisbane (IISB). The ustadz was Romzi Ali from Sydney, who talked about Signs of Happiness (Tanda-tanda Kebahagiaan). I will write what he talked about, so that I don't forget.. and passing the knowledge to others (hopefully) brings amal shaleh..amin! sengihnampakgigi

He told of Ibnu Abbas ra. (one of Allah's Apostle who was given the gift of memorising the Qur'an at the age of 9, and was specially prayed for by Prophet Muhammad PBUH), who was once asked by the Tabi'in (the generation after the death of Prophet Muhammad PBUH) what is meant by happiness. He answered that there are 7 signs (great things comes in 3s.. or 7s.. hehe --ga penting deh chi..):

  1. QALBUN SYAAKIRUUN: A heart that is always grateful to الله, and qana'ah, feeling enough with small things. Well, I see it as feeling enough with what we have, whether it is a lot or barely anything, since it is human nature that we will never feel enough, regardless of how much we have. Ustadz Romzi described if we have $500, we feel enough spending $300, but if we have $700, then we feel we must spend $500 and $300 would be felt insufficient, and so on. Kalo Indonesianya sih.. qana'ah = bahagia apa adanya ;)
  2. AL AZWAJU SHALIHAH: (Wichi's heart goes "WAAAA!!!" trus mupeng deh, hehe, didn't realise this would come second on the list, caught me off guard there and made me feel all butterfly-in-the-stomach love) This means: a shaleh/pious partner (husband/wife). Well, enough of the wonderings and the blushing... malu The Ustadz said there is an example in Q.S.At-Tahrim: 10-12 of a shaleh wife but kafir husband (Pharaoh and his wife), a shaleh husband but a kafir wife (Prophets Noah/Nuh as.and Lot/Luth as. and their wives), and a shaleh family all the way, such as that of Maryam and her family (the Ali-Imran family). Wouldn't we all want to be like Maryam... having generations before and after of shaleh families... rindu As Wichi continues to wander and blush, the Ustadz went on of how the men are given the heavy burden of being responsible for their role as imam of the family... they cannot go anywhere in the Day of Judgment (i.e. up to heaven) if their family, especially their wives account them for being an irresponsible imam. The quality of responsibility here is of course according to الله and not according to us (man or woman!). So if there is the debate of Islam downgrading women, we must question what is the quality of the downgrading, according to whose values? Because in the end الله's values are what count above everything else... And yes.. Wichi continues to wander and blush and sigh dreamily... rindumalu....
  3. AL AULADUN ABRAR: Yes, a shaleh/abrar child. We know the power of the prayer of a shaleh child, the Prophet PBUH in a hadith stated that there are three good deeds that will not die with a person after he dies, amal jariyah, useful knowledge, and the prayer of a pious child (I think it was Sahih Bukhari/Muslim).... The Prophet PBUH also in another hadith stated that taking care of parents in a form of jihad in itself.. Subhanallah... (Another emotional moment as Wichi's mind wanders off to her parents... miss them.. huhuhu... cry)
  4. ALBIATU SHALIHAH: A conducive environment for our piety. Indeed, Wichi really feels for this. I get carried away easily, I must stay in an environment that nurtures my iman otherwise I'm really vulnerable to bad things (haha! bad, bad excuse...) The Ustadz spoke of how we should leave a country if the environment is doing bad things to our own iman, such was the case of the Prophet PBUH's hijrah from Makkah to Madinah.
  5. ALMALUL HALAL: Owning halal wealth. We don't need much wealth, as long as it is halal. Halal not just of what we get, but what we use it for. Halal not for just material things, but how we use it, and even for food. There was a saying (forgot if it was hadith or not) pinned on the mushalla of my old school in Chemistry ITB (how old Chi.. baru 1 tahun ninggalin Kimia juga..sok2an.. hehe jelir) that said along the lines of what the Ustadz was saying: if you are in doubt, leave it! This is the case especially for food. Here in Australia it's always the case of doubting if the food we eat is halal, even if it has a halal sign, doesn't mean it is!! Scary huh.. was thinking of turning vegetarian just to be safe, hehe. Because anything that is doubtful to you is closer to being haram... It's important to maintain the halal-ness (Wichi's new word!!) of everything around you... there was a hadith telling a story of how someone kept praying to the maximum extent but was not being granted, because his food and earnings are haram!
  6. TAFAKUH FI DIEN: The chance of learning.. of getting knowledge. The ustadz said there are three important things a Muslim should learn first: 1. ma'rifatullah: learn Allah, 2. ma'rifaturrasul: learn of the Rasul PBUH, 3. ma'rifatul dien: learn the religion (Islam)... The more we learn, the more we know and understand, the more we will love الله and the more our heart is filled with الله's NUR (light). Subhanallah...
  7. UMUR BARAKAH: The time we spend, is a fruitful and blessed one. I was reminded of a training where we were given a piece of paper, and divide the paper into 10 pieces. 1 block represent 10 years of our lives. We cut off the end according to our life expectancy (so 3 pieces off, if we were to live to 70 years), then we cut off the other end according to our age because it has gone past. Most of the people were left with just one small piece of paper! Even though mine was a bit bigger (since I was younger than most people there) it did get me thinking.. wow, my life is only this left!! How can I make use of it?? Yes, it is important that the time we spend we don't regret, because we have filled it with amal shaleh and total devotion to الله...

(Based on Romzi Ali in the Pengajian Bulanan and AGM IISB Brisbane, Australia, Aug 23, 2008 with reference to 7 Indikator Kebahagiaan Dunia, adapted freely by Wichitra Yasya)
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...