Thursday, June 30, 2011

Ujian dan Cobaan: Penggugur Dosa, Penambah Kebaikan

Dalam hidup, kita tidak lepas dari berbagai ujian dan cobaan.  Kadang ujian itu dapat kita lalui tanpa kesulitan berarti. Tapi kadang, cobaan yang kita terima sangat berat sampai rasanya kita tak sanggup menanggungnya.  Pada saat seperti itu, kita mungkin merasa sebagai orang yang paling malang sedunia.  Seakan-akan Allah meninggalkan kita, membiarkan kita terbenam dalam kesulitan.
Namun, Rasulullah saw. bersabda:
Barangsiapa dikehendaki Allah kebaikan baginya maka dia diuji (dicoba dengan suatu musibah). (HR. Bukhari).
Apabila Allah menyenangi hamba maka dia diuji agar Allah mendengar permohonannya (kerendahan dirinya). (HR. Al-Baihaqi).
Tiada seorang mukmin ditimpa rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyakit atau kesedihan (kesusahan) sampai pun duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah menghapus dosa-dosanya. (HR. Bukhari).
Tiada seorang muslim tertusuk duri atau yang lebih dari itu, kecuali Allah mencatat baginya kebaikan dan menghapus darinya dosa. (HR. Bukhari).
Cobaan atau kesulitan terkecil pun, ketika kita menerimanya dengan ikhlas, maka berguguran dosa-dosa kita lagi bertambah kebaikan kita.  Berlawanan dengan apa yang kadang terlintas di pikiran kita, ujian dan cobaan justru merupakan bentuk kasih sayang Allah swt. kepada kita. Ketika mendapat ujian, kita juga mendapat kesempatan untuk mendekatkan diri dan menaikkan derajat kita di hadapan Allah swt.  Semakin berat cobaan kita, semakin besar pula kebaikan yang akan kita terima ketika berhasil melaluinya.
Rasulullah saw. bersabda:
Besarnya pahala sesuai dengan besarnya ujian dan cobaan. Sesungguhnya Allah ‘Azza wajalla bila menyenangi suatu kaum Allah menguji mereka. Barangsiapa bersabar maka baginya manfaat kesabarannya dan barangsiapa murka maka baginya murka Allah. (HR. Tirmidzi).
Sa’ad bin Abi Waqqash berkata, “Aku bertanya kepada Rasulullah Saw, ‘Ya Rasulullah, siapakah orang yang paling berat ujian dan cobaannya?’” Nabi Saw menjawab, “Para nabi kemudian yang meniru (menyerupai) mereka dan yang meniru (menyerupai) mereka. Seseorang diuji menurut kadar agamanya. Kalau agamanya tipis (lemah) dia diuji sesuai dengan itu (ringan) dan bila imannya kokoh dia diuji sesuai itu (keras). Seorang diuji terus-menerus sehingga dia berjalan di muka bumi bersih dari dosa-dosa. (HR. Bukhari).
Ujian dan cobaan juga merupakan cara Allah swt. untuk menutupi kekurangan amal kita, menempa kita menjadi diri yang lebih baik, serta meletakkan kita pada posisi yang lebih baik, di dunia dan akhirat. Seperti yang disabdakan oleh Rasulullah saw.:
Seorang hamba memiliki suatu derajat di surga. Ketika dia tidak dapat mencapainya dengan amal-amal kebaikannya maka Allah menguji dan mencobanya agar dia mencapai derajat itu. (HR. Ath-Thabrani).
Apabila Aku menguji hambaKu dengan membutakan kedua matanya dan dia bersabar maka Aku ganti kedua matanya dengan surga. (HR. Ahmad).
Allah menguji hamba-Nya dengan menimpakan musibah sebagaimana seorang menguji kemurnian emas dengan api (pembakaran). Ada yang ke luar emas murni. Itulah yang dilindungi Allah dari keragu-raguan. Ada juga yang kurang dari itu (mutunya) dan itulah yang selalu ragu. Ada yang ke luar seperti emas hitam dan itu yang memang ditimpa fitnah (musibah). (HR. Ath-Thabrani).
Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 286 menyebutkan bahwa “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya…”. Maka seberat apapun ujian yang kita terima, kita pasti mampu melewatinya.  Hanya saja, terkadang kita tidak menyadari sekuat apa diri kita, sebesar apa potensi dalam diri kita. Allah lebih mengetahui kemampuan kita, dan Dia bersama kita dalam setiap kesulitan, juga menjanjikan adanya kemudahan setelah setiap kesulitan, jika kita tidak menyerah menghadapinya. Memohonlah kepada-Nya dan bersabarlah, niscaya rahmat, berkah, dan keselamatan akan kita dapatkan.
Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. (QS. Al-Insyirah: 6).
Barangsiapa diuji lalu bersabar, diberi lalu bersyukur, dizalimi lalu memaafkan dan menzalimi lalu beristighfar maka bagi mereka keselamatan dan mereka tergolong orang-orang yang memperoleh hidayah. (HR. Al-Baihaqi).
Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (Yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun” . Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS. Al-Baqarah: 155-157)

Thursday, November 4, 2010

Lauren Booth explains why she fell in love with Islam

LAUREN Booth, a broadcaster, journalist and sister-in-law of former British Prime Minister Tony Blair, defiantly explains her conversion to Islam.

"It is the most peculiar journey of my life. The carriage is warm and my fellow passengers unexpectedly welcoming. We are progressing rapidly and without delay. Rain, snow, rail unions, these things make no difference to the forward rush.

Yet I have no idea how I came to be on board nor, stranger still, quite where the train is heading, apart from this: the destination, wherever it might be, is the most important place I can imagine.

I know this all seems gloriously far-fetched, but really it is how I feel about my conversion, announced last week, to Islam.

Although the means and mechanisms that brought me to this point remain mysterious, the decision will determine every aspect of my life to come as firmly as the twin rails beneath that exhilarating express.

Asked for a simple explanation of how I, an English hack journalist, a single working mother, signed up to the Western media’s least-favourite religion, I suppose I would point to an intensely spiritual experience in an Iranian mosque just over a month ago.

But it makes more sense to go back to January 2005, when I arrived alone in the West Bank to cover the elections there for The Mail on Sunday. It is safe to say that before that visit I had never spent any time with Arabs, or Muslims.

The whole experience was a shock, but not for the reasons I might have expected. So much of what we know about this part of the world and the people who follow Mohammed the Prophet is based on disturbing - some would say biased - news bulletins.

So, as I flew towards the Middle East, my mind was full of the usual 10pm buzz words: radical extremists, fanatics, forced marriages, suicide bombers and jihad. Not much of a travel brochure.

My very first experience, though, could hardly have been more positive. I had arrived on the West Bank without a coat, as the Israeli airport authorities had kept my suitcase.

Walking around the centre of Ramallah, I was shivering, whereupon an old lady grabbed my hand.

Talking rapidly in Arabic, she took me into a house on a side street. Was I being kidnapped by a rather elderly terrorist? For several confusing minutes I watched her going through her daughter’s wardrobe until she pulled out a coat, a hat and a scarf.

I was then taken back to the street where I had been walking, given a kiss and sent warmly on my way. There had been not a single comprehensible word exchanged between us.

Warmth of spirit

It was an act of generosity I have never forgotten, and one which, in various guises, I have seen repeated a hundred times. Yet this warmth of spirit is so rarely represented in what we read and see in the news.

Over the course of the next three years I made numerous journeys to the occupied lands which were once historic Palestine. At first I went on assignments; as time went by, I started travelling in solidarity with charities and pro-Palestinian groups.

I felt challenged by the hardships suffered by Palestinians of all creeds. It is important to remember there have been Christians in the Holy Land for 2000 years and that they too are suffering under Israel’s illegal occupation.

Gradually I found expressions such as ‘Mashallah!’ (a phrase of gratitude meaning ‘God has willed it’) and ‘Al Hamd illilah!’ (akin to ‘Halle lujah’) creeping into my everyday speech. These are exclamations of delight derived from the 100 names of God, or Allah. Far from being nervous of Muslim groups, I started looking forward to meeting them. It was an opportunity to be with people of intelligence, wit and, above all else, kindness and generosity.

I’m going to take a break here to pray for 10 minutes as it’s 1.30pm. (There are five prayers each day, the times varying throughout the year depending on the rising and setting of the sun.)

I was in no doubt that I had embarked on a change of political understanding, one in which Palestinians became families rather than terror suspects, and Muslim cities communities rather than ‘collateral damage’.

But a religious journey? This would never have occurred to me. Although I have always liked to pray and, since childhood, have enjoyed the stories of Jesus and the more ancient prophets that I had picked up at school and at the Brownies, I was brought up in a very secular household.

Bold Muslim women

It was probably an appreciation of Muslim culture, in partic ular that of Muslim women, that first drew me towards a broader appreciation of Islam.

How strange Muslim women seem to English eyes, all covered up from head to toe, sometimes walking behind their husbands (although this is far from universally the case), with their children around their long skirts.

By contrast, professional women in Europe are happy to make the most of their appearance. I, for example, have always been proud of my lovely blonde hair and, yes, my cleavage.

It was common working practice to have this on display at all times because so much of what we sell these days has to do with our appearance.

Yet whenever I have been invited to broadcast on television, I have sat watching in wonder as the female presenters spend up to an hour on their hair and make- up, before giving the serious topics under discussion less than 15 minutes’ attention. Is this liber ation? I began to wonder just how much true respect girls and women get in our ‘free’ society.

In 2007 I went to Lebanon. I spent four days with female university students, all of whom wore the full hijab: belted shirts over dark trousers or jeans, with no hair on show. They were charming, independent and outspoken company. They were not at all the timid, soon-to-be-forced-into-marriage girls I would have imagined from what we often read in the West.

At one point they accompanied me to interview a sheikh who was also a commander with the Hezbollah militia. I was pleasantly surprised by his attitude to the girls. As Sheikh Nabil, in turban and brown flowing robes, talked intriguingly of a prisoner swap, they started butting in. They felt free to talk over him, to put a hand up for him to pause while they translated.

In fact, the bossiness of Muslim women is something of a joke that rings true in so many homes in the community. You want to see men under the thumb? Look at many Muslim husbands more than other kinds.

Indeed, just yesterday, the Grand Mufti of Bosnia rang me and only half-jokingly introduced himself as ‘my wife’s husband’.

Something else was changing, too. The more time I spent in the Middle East, the more I asked to be taken into mosques. Just for touristy reasons, I told myself. In fact I found them fascinating.

Mosques 'fascinating'

Free of statues and with rugs instead of pews, I saw them rather like a big sitting room where ­children play, women feed their families pitta bread and milk and grandmothers sit and read the Koran in wheelchairs. They take their lives into their place of worship and bring their worship into their homes.

Then came the night in the Iran ian city of Qom, beneath the golden dome of the shrine of Fatima Mesumah (the revered ‘Learned Lady’). Like the other women pilgrims, I said Allah’s name several times while holding on to the bars of Fatima’s tomb.

When I sat down, a pulse of sheer spiritual joy shot through me. Not the joy that lifts you off the ground, but the joy that gives you complete peace and contentment. I sat for a long time. Young women gathered around me talking of the ‘amazing thing happening to you’.

I knew then I was no longer a tourist in Islam but a traveller inside the Ummah, the community of Islam that links all believers.

At first I wanted the feeling to go, and for several reasons. Was I ready to convert? What on earth would friends and family think? Was I ready to moderate my behaviour in many ways?

And here’s the really strange thing. I needn’t have worried about any of these things, because somehow becoming a Muslim is really easy – although the prac ticalities are a very different ­matter, of course.

For a start, Islam demands a great deal of study, yet I am mother to two children and work full-time. You are expected to read the Koran from beginning to end, plus the thoughts and findings of imams and all manner of spiritually enlightened people. Most people would spend months, if not years of study before making their declaration.

People ask me how much of the Koran I’ve read, and my answer is that I’ve only covered 100 pages or so to date, and in translation. But before anyone sneers, the verses of the Koran should be read ten lines at a time, and they should be recited, considered and, if possible, committed to memory. It’s not like OK! magazine.

This is a serious text that I am going to know for life. It would help to learn Arabic and I would like to, but that will also take time.

I have a relationship with a couple of mosques in North London, and I am hoping to make a routine of going at least once a week. I would never say, by the way, whether I will take a Sunni or a Shia path. For me, there is one Islam and one Allah.

Adopting modest dress, however, is rather less troublesome than you might think. Wearing a headscarf means I’m ready to go out more quickly than before. I was blushing the first time I wore it loosely over my hair just a few weeks ago.

Luckily it was cold outside, so few people paid attention. Going out in the sunshine was more of a challenge, but this is a tolerant country and no one has looked askance so far.

A veil, by the way, is not for me, let alone something more substantial like a burka. I’m making no criticism of women who choose that level of modesty. But Islam has no expectation that I will adopt a more severe form of dress.

Predictably, some areas of the Press have had a field day with my conversion, unleashing a torrent of abuse that is not really aimed at me but a false idea of Islam.

But I have ignored the more negative comments. Some people don’t understand spirituality and any discussion of it makes them frightened. It raises awkward questions about the meaning of their own lives and they lash out.

One of my concerns is professional. It is easy to get pigeonholed, particularly if I continue to wear a headscarf. In fact, based on the experience of other female converts, I’m wondering if I will be treated as though I have lost my mind.

I’ve been political all my life, and that will continue. I’ve been involved in pro-Palestinian activism for a number of years, and don’t expect to stop. Yet Britain is a more tolerant country than, say, France or Germany.

I’m well aware that there are plenty of Muslim women who have great success on television and in the Press, and wear modest but decidedly Western dress.

This is hardly a choice for me, though. I am a newcomer, still getting to grips with the basic tenets. My relationship with Islam is different. I am in no position to say that some bits of my new-found faith suit me and that some bits I’ll ignore.

There is a more profound uncertainty about the future, too. I feel changes going on in me every day – that I’m becoming a different person. I wonder where that will end up. Who will I be?

I am fortunate in that my most important relationships remain strong. The reaction from my non-Muslim friends has been more curious than hostile. "Will it change you?" they ask. "Can we still be your friend? Can we go out drinking?"

The answer to the first two of those questions is yes. The last is a big happy no.

As for my mother, I think she is happy if I’m happy. And if, coming from a background of my father’s alcoholism, I’m going to avoid the stuff, then what could be better?

Alcoholic household

Growing up in an alcoholic household with a dad who was violent, has left a great gap in my life. It is a wound that will never heal and his remarks about me are very hurtful.

We haven’t seen each other for years, so how can he know anything about me or have any valid views about my conversion? I just feel sorry for him. The rest of my family is very supportive.

My mum and I had a difficult relationship when I was growing up, but we have built bridges and she’s a great support to me and the girls.

When I told her I had converted, she did say: "Not to those nutters. I thought you said Buddhism!" But she understand now and accepts it.

And, as it happens, giving up alcohol was a breeze. In fact I can’t imagine tasting alcohol ever again. I simply don’t want to.

This is not the time for me to be thinking about relationships with men, either. I’m recovering from the breakdown of my marriage and am now going through a divorce.

So I’m not looking and am under no pressure to look.

If, when the time came, I did consider remarrying, then, in accordance with my adopted faith, the husband would need to be Muslim.

I’m asked: "Will my daughters be Muslim?" I don’t know, that is up to them. You can’t change someone’s heart. But they’re certainly not hostile and their reaction to my surprising conversion was perhaps the most telling of all.

I sat in the kitchen and called them in. "Girls, I have some news for you," I began. "I am now a Muslim." They went into a huddle, with the eldest, Alex, saying: "We have some questions, we’ll be right back."

They made a list and returned. Alex cleared her throat. "Will you drink alcohol any more?"

Answer: No. The response - a rather worrying "Yay!"

"Will you smoke cigarettes any more?" Smoking isn’t haram (for bidden) but it is harmful, so I answered: "No."

Again, this was met with puritanical approval. Their final question, though, took me aback. "‘Will you have your breasts out in public now you are a Muslim?"


It seems they’d both been embarrassed by my plunging shirts and tops and had cringed on the school run at my pallid cleavage. Perhaps in hindsight I should have cringed as well.

"Now that I’m Muslim," I said, "I will never have my breasts out in public again."

"We love Islam!" they cheered and went off to play. And I love Islam too."

Lauren Booth, 43, the sixth daughter of actor Tony Booth, now works for Press TV, the English-language news channel of the Islamic Republic of Iran

Source: forwarded email

Wednesday, November 3, 2010

Tentang Qurban

Menyambut Hari Raya Idul Adha, mari kita perkaya pengetahuan kita tentang salah satu ibadah utama saat Idul Adha yaitu berkurban. :)
Katakanlah: sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. (QS.6:162)

Dalam istilah ilmu fiqih hewan qurban biasa disebut dengan nama Al Udh-hiyah. Udh-hiyah adalah hewan ternak yang disembelih pada hari Iedul Adha dan hari Tasyriq dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah karena datangnya hari raya tersebut (lihat Al Wajiz, 405 dan Shahih Fiqih Sunnah II/366)

Keutamaan Qurban

Dari Aisyah r.a. Rasulullah s.a.w. bersabda:"Amal yang paling disukai Allah pada hari penyembelihan adalah mengalirkan darah hewan qurban, sesungguhnya hewan yang diqurbankan akan datang (dengan kebaikan untuk yang melakukan qurban) di hari kiamat kelak dengan tanduk-tanduknya, bulu dan tulang-tulangnya, sesunguhnya (pahala) dari darah hewan qurban telah datang dari Allah sebelum jatuh ke bumi, maka lakukanlah kebaikan ini".(H.R. Tirmidzi).

Hadist Ibnu Abbas Rasulullah bersabda:"Tiada sedekah uang yang lebih mulia dari yang dibelanjakan untuk qurban di hari raya Adha"(H.R. DaruQutni).

Menyembelih qurban termasuk amal salih yang paling utama.

Ibunda ‘Aisyah radhiyallahu‘anha menceritakan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah anak Adam melakukan suatu amalan pada hari Nahr (Iedul Adha) yang lebih dicintai oleh Allah melebihi mengalirkan darah (qurban), maka hendaknya kalian merasa senang karenanya.” (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah dan Al Hakim dengan sanad shohih. Lihat Taudhihul Ahkam, IV/450)

Banyak ulama menjelaskan bahwa menyembelih hewan qurban pada hari idul Adha lebih utama daripada sedekah yang senilai dengan harga hewan qurban atau bahkan sedekah yang lebih banyak dari pada nilai hewan qurban. Karena maksud terpenting dalam berqurban adalah mendekatkan diri kepada Allah. Di samping itu, menyembelih qurban lebih menampakkan syi’ar islam dan lebih sesuai dengan sunnah. (Lihat Shahih Fiqh Sunnah 2/379 & Syarhul Mumthi’ 7/521)

Hukum Qurban

Dalam hal ini para ulama terbagi dalam dua pendapat. Ada yang mengatakan hukumnya wajib bagi orang yang berkecukupan dan ada pula yang mengatakan hukumnya sunnah mu’akkad (ditekankan). Sebagian ulama memberikan jalan keluar dari perselisihan ini dengan menasehatkan, “…selayaknya bagi mereka yang mampu, tidak meninggalkan berqurban. Karena dengan berqurban akan lebih menenangkan hati dan melepaskan tanggungan, wallahu a’lam.” (Tafsir Adwa’ul bayan, 1120).

Yakinlah…! bagi mereka yang berqurban, Allah akan segera memberikan ganti biaya qurban yang dia keluarkan. Karena setiap pagi Allah mengutus dua malaikat, yang satu berdo’a: “Yaa Allah, berikanlah ganti bagi orang yang berinfaq.” Dan yang kedua berdo’a: “Yaa Allah, berikanlah kehancuran bagi orang yang menahan hartanya (pelit).” (HR. Bukhari 1374 & Muslim 1010).

Hewan Yang Boleh Digunakan Untuk Qurban

Hewan qurban hanya boleh dari kalangan Bahiimatul Al An’aam (hewan ternak tertentu) yang terdiri dari onta, sapi atau kambing dan tidak boleh selain itu. Bahkan sekelompok ulama menukilkan adanya ijma’ kesepakatan) bahwasanya qurban tidak sah kecuali dengan hewan-hewan tersebut (lihat Shahih Fiqih Sunnah, II/369 dan Al Wajiz 406)

Seekor Kambing Untuk Satu Keluarga

Seekor kambing cukup untuk qurban satu keluarga, dan pahalanya mencakup seluruh anggota keluarga meskipun jumlahnya banyak atau bahkan yang sudah meninggal dunia. Sebagaimana hadits Abu Ayyub radhiyallahu’anhu yang mengatakan, ”Pada masa Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam seseorang (suami) menyembelih seekor kambing sebagai qurban bagi dirinya dan keluarganya.” (HR. Tirmidzi dan beliau menilainya shahih. Lihat Minhaajul Muslim, 264 dan 266).

Oleh karena itu, tidak selayaknya seseorang mengkhususkan qurban untuk salah satu anggota keluarganya tertentu, misalnya kambing 1 untuk anak si A, kambing 2 untuk anak si B… karunia dan kemurahan Allah sangat luas maka tidak perlu dibatasi.

Bahkan Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam berqurban untuk dirinya dan seluruh umatnya. Suatu ketika beliau hendak menyembelih kambing qurban. Sebelum menyembelih beliau mengatakan, “Yaa Allah ini – qurban – dariku dan dari umatku yang tidak berqurban.” (HR. Abu Daud 2810 & Al Hakim 4/229 dan dishahihkan Syaikh Al Albani dalam Al Irwa’ 4/349).

Berdasarkan hadits ini, Syaikh Ali bin Hasan Al Halaby mengatakan, “Kaum muslimin yang tidak mampu berqurban, mendapatkan pahala sebagaimana orang berqurban dari umat Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam.”

Adapun yang dimaksud: “…kambing hanya boleh untuk satu orang, sapi untuk tujuh orang, dan onta 10 orang…” maksudnya adalah biaya pengadaannya. Biaya pengadaan kambing hanya boleh dari satu orang, biaya pengadaan sapi hanya boleh dari maksimal tujuh orang, dst.

Ketentuan Untuk Sapi & Onta

Seekor sapi dijadikan qurban untuk 7 orang. Sedangkan seekor onta untuk 10 orang. Dari Ibnu Abbas radhiyallahu’anhu beliau mengatakan, ”Dahulu kami penah bersafar bersama Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam lalu tibalah hari raya Iedul Adha maka kami pun berserikat sepuluh orang untuk qurban seekor onta. Sedangkan untuk seekor sapi kami berserikat sebanyak tujuh orang.” (Shahih Sunan Ibnu Majah 2536, Al Wajiz, hal. 406).

Dalam masalah pahala, ketentuan qurban sapi sama dengan ketentuan qurban kambing. Artinya urunan 7 orang untuk qurban seekor sapi, pahalanya mencakup seluruh anggota keluarga dari 7 orang yang ikut urunan.

Wallahu a’lam.


Wednesday, October 13, 2010

The Scimitar and the Veil: Extraordinary Women of Islam

Author Heath, Jennifer.
Title The scimitar and the veil : extraordinary women of Islam / Jennifer Heath.
Publisher Mahwah, N.J. : Hidden Spring, c2004.
I. "Paradise lies at the feet of the mothers" : in the beginning : women of the prophetate -- II. "That does not come from you, but from her behind the curtain" : scholars of the Hadith -- III. "Be like wax and illumine the world. Be like a needle and work naked" : ascetics, saints, and mystics -- IV. "If you do not fall in battle, someone is saving you as a token of shame" : warriors and amazons -- V. "Drink from this cup, then be gracious to her who sent it by paying a visit after sunset" : rebels and concubines -- VI. "Listening stirs the heart to see god" : musicians and dancers -- VII. "We have left the account for the day of accountings" : rulers, regents, queen mothers, and philanthropists -- VIII. "To educate a woman is to educate the whole world ..." : tradeswomen and learned ladies -- IX. "Enjoy life! Who cares what people say?" : poets -- The five pillars of Islam.

The Scimitar and the Veil is a book written to introduce, and perhaps improve the perceptions of Western people on Muslim women. It accounts very comprehensively the history of famous or at least recorded Muslim women from the first woman to become a Muslim (Khadijah bint Khuwaylid RA) to queens, poets and tradeswomen of the 19th century.

So it is a very comprehensive book, around 465 pages.. and took me 2 months to finish reading it. And what do I think about it?

Well, the author has really gone to great lengths to research and write on these remarkable Muslim women. I became very engaged in the beginning, in the first section on the first Muslim women, those whose lives are personally touched by the physical presence of Prophet Muhammad SAW. How lucky they are to know him personally.. and to be loved by him! I've read before their stories, especially Prophet Muhammad SAW's wives or Ummul Mu'minin, such as Khadijah bint Khuwaylid RA and Aisyah bint Abu Bakr RA, but I was never able to really engage with it. I guess the stories or books I read were more of a historical account. What is different about this book is that it is (sometimes overly) romanticised. It actually portrayed the personal feelings of these women. Like how Khadijah RA dreamed of Muhammad SAW. It was told in this book that she went up to the roof of her house to get some air, then she watched a group of traders walked past and saw that Muhammad SAW was shining. It accounted, with dialogue, how anxious she was after she proposed to Muhammad SAW. And the part about Aisyah RA were also documented in such a way that I could actually feel what she was feeling and really could imagine what she is like. So it wasn't like reading a textbook (I used to feel this way when reading the previous books on Ummul Mu'minin).

Although, I'm sure a lot of people, particularly Muslim, would object that such great women are portrayed in this way. I mean who really knows for sure that Khadijah actually said or thought, or what the other Ummul Mu'minin thought in their hearts. So I think some of the dialogues are made up, just to spice up the story.. but I love it! I imagine too that those reading this book, especially women, would want a romantic story rather than a textbook-like account.

Other extraordinary women that were portrayed were scholars, warriors, queens, rulers, queen-mothers, tradeswomen, mystics, etc.. but mostly it really showed its "girl power" promise through the accounts of women warriors and rulers. I think the author is trying to say that "girls can really rawk" by going to war and even ruling a whole kingdom and be in power over men. Well, okay. I'm not really into this part. I don't like any accounts of war of violence, especially when women are involved. As for women leaders, well, surprisingly, I'm not into that either. I am totally into girl power, but I believe sometimes women and men have their place, naturally.

I'm not saying I oppose of women leaders and warriors. Just not interested. I am more interested in women who tend to their family more, and do it in piety of Allah and really happy doing it. Now that's girl power. ;)

I'm also not able to engage with chapters III, V and VI on saints/mystics, rebels/concubines and musicians/dancers respectively. Chapter III told about Muslim women ascetics or mystics, or in Islam we call them Sufi. Personally, I don't really approve of Sufism or those who submit to Islam in such a way they ignore other people or the environment around them. As if the only thing matters is their relationship to Allah SWT. Islam, in my view, is a very communal and social religion. That is why it is so comprehensive. So this chapter tells Muslim women, who, through their constant devotion in praying, crying, loving Allah SWT were able to perform miracles. Hmm.. really? I'm a bit skeptic on this.

The chapter on rebels and concubines also didn't appeal to me. Who likes the word "rebel" and "concubine" and have them associated with Muslim woman? Not me. Especially how they stated that Prophet Muhammad SAW had a concubine who was a Christian, Maria al-Qibtiyyah. If concubine here means it is a "secondary wife", then fine. But if it means a woman who is not legally married to him, but cohabits with him.. then I'm a bit concerned. The concubines that were portrayed here were those "residing in a harem and kept, as by a sultan, for sexual purposes". *sigh* Are men allowed to do this? And they are sultan, too! Those with high power. Isn't this zina? Although it is interesting to read about the politics going on in the harem with these concubines, I am a bit upset how it is connected to Islam with its strict sanction of zina. The next chapter on musicians and dancers also gave me a similar feeling with the previous chapter, as musicians and dancers are mostly associated with concubines who had these talents to be presented to please her master or sultan.

To be honest, the only chapter I thoroughly enjoyed was the first one. Towards the end it got boring for me, since it was too long and maybe I just got bored, so I started skipping pages, stories, and sometimes a whole chapter. The last chapter I didn't even bother to read. But I was able to read the part of how the person responsible for trades in Aceh and Gresik are women! I think that's the only time Southeast Asian women were mentioned. Which was sad, Cut Nyak Dien or RA Kartini should have had their places in this book. Most women portrayed originated from the Middle East, Africa or East Asia. Which got me thinking, if a similar book were to be written on Muslim women 20th century onwards..would Indonesia have gained more portion? After all, we are the largest Muslim country in the world...

Nevertheless, although there were some points I didn't agree on, I do agree this book is quite a treasure. Those wanting to learn about real Muslim women in history should read this book, especially women. Though I don't recommend it to men.. they might get boring reading the romanticised parts and may get the wrong ideas on the parts about concubines, polygamy, etc.

And I would just like to clarify some points that could be misleading Islam in this book:

1. Although in Islam polygamy is allowed, as stated in the Qur'an, but the conditions of it have to be met, i.e. the man is able to be just to his wives in all cases, the latter marriage is endorsed by the previous wife, etc.
2. Having concubines, meaning women not legally married to a man but can be involved in sexual relationships with them, are not allowed in Islam. This is called zina, and the sanction in the Qur'an is very severe. In fact, it is said one of the reasons polygamy can be allowed is to prevent committing the sin of zina.
3. The consumption of alcohol for drinks is prohibited in Islam. In this book the characters were described as drinking wine and even getting drunk. Prohibition of alcohol is debatable, though, some say that if it is in an amount that is not dangerous i.e. doesn't get the person drunk, then it is okay. As long as they don't get drunk. But for me, no alcoholic drinks (please note, it's drinks! not legal medicines) can go through my throat, thank you!
4. On the veil. From my readings, discussions, etc.. I have come to believe that the most important is the veil of the heart, rather than physical veil. But I do really recommend women to wear very decent clothes and not showing their body parts. For me, personally, that is a dignified woman who loves herself and most importantly loves Allah SWT. ;)

Monday, August 30, 2010

Hukum Seorang Wanita Menambahkan Nama Suaminya di Belakang Namanya

Setelah menikah, terkadang seorang wanita mengganti namanya belakangnya atau nama keluarganya dengan nama suaminya. Hal ini juga banyak dilakukan di negara-negara barat, seperti istrinya Bill Clinton: Hillary Clinton yang nama aslinya Hillary Diane Rodham; istrinya Barrack Obama: Michelle Obama yang nama aslinya Michelle LaVaughn Robinson, dan lain-lain.

Lalu bagaimanakah pendapat para ulama tentang masalah ini?

Fatwa Lajnah Da’imah:

Fatawa al-Lajnah ad-Da’imah lil Buhutsil Ilmiyyah wal Ifta’ juz 20 halaman 379.

Pertanyaan :
Telah umum di sebagian negara, seorang wanita muslimah setelah menikah menisbatkan namanya dengan nama suaminya atau laqobnya. Misalnya: Zainab menikah dengan Zaid, Apakah boleh baginya menuliskan namanya : Zainab Zaid? Ataukah hal tersebut merupakan budaya barat yang harus dijauhi dan berhati-hati dengannya?

Jawab :
Tidak boleh seseorang menisbatkan dirinya kepada selain ayahnya.

Alloh subhanahu wa ta’ala berfirman:
ادْعُوهُمْ لِآبَائِهِمْ هُوَ أَقْسَطُ عِنْدَ اللَّهِ
“Panggillah mereka (anak-anak angkat itu) dengan memakai nama bapak-bapak mereka, itulah yang lebih adil di sisi Allah.” [QS al-Ahzab: 5]

Sungguh telah datang ancaman yang keras bagi orang yang menisbatkan kepada selain ayahnya. Maka dari itu tidak boleh seorang wanita menisbatkan dirinya kepada suaminya sebagaimana adat yang berlaku pada kaum kuffar dan yang menyerupai mereka dari kaum muslimin.
وبالله التوفيق، وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم
al-Lajnah ad-Da’imah lil Buhutsil Ilmiyyah wal Ifta’
Ketua : Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz
Wakil : Abdul Aziz Alu Syaikh
Anggota :
Abdulloh bin ghudayyan
Sholih al-Fauzan
Bakr Abu Zaid
فتاوى اللجنة الدائمةالسؤال الثالث من الفتوى رقم ( 18147 )
س3: قد شاع في بعض البلدان نسبة المرأة المسلمة بعد الزواج إلى اسم زوجها أو لقبه، فمثلا تزوجت زينب زيدا، فهل يجوز لها أن تكتب: (زينب زيد)، أم هي من الحضارة الغربية التي يجب اجتنابها والحذر منها؟
ج3: لا يجوز نسبة الإنسان إلى غير أبيه، قال تعالى: { ادْعُوهُمْ لِآبَائِهِمْ هُوَ أَقْسَطُ عِنْدَ اللَّهِ } (1) وقد جاء الوعيد الشديد على من انتسب إلى غير أبيه. وعلى هذا فلا يجوز نسبة المرأة إلى زوجها كما جرت العادة عند الكفار، ومن تشبه بهم من المسلمين
وبالله التوفيق، وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم.
اللجنة الدائمة للبحوث العلمية والإفتاء
عضو … عضو … عضو … نائب الرئيس … الرئيس
بكر أبو زيد … صالح الفوزان … عبد الله بن غديان … عبد العزيز آل الشيخ … عبد العزيز بن عبد الله بن باز
Fatwa Syaikh Sholih al-Fauzan hafidzohulloh

Pertanyaan :
Apakah boleh seorang wanita setelah menikah melepaskan nama keluarganya dan mengambil nama suaminya sebagaimana orang barat?

Jawab :
Hal itu tidak diperbolehkan, bernasab kepada selain ayahnya tidak boleh, haram dalam islam.
Haram dalam islam seorang muslim bernasab kepada selain ayahnya baik laki-laki atau wanita. Dan baginya ancaman yang keras dan laknat bagi yang melakukannya yaitu yang bernasab kepada selain ayahnya hal itu tidak boleh selamanya.

Dari kaset Syarh Mandhumatul Adab Syaikh al-Fauzan Hafidhohulloh
السؤالهل يجوز للمرأة بعد الزواج ان تتنازل عن اسمها العائلي وتاخذ اسم زوجها كما هو الحال في الغرب؟الجواب هذا لا يجوز الانتساب الى غير الاب لا يجوز حرام في الاسلام
حرام في الاسلام ان المسلم ينتسب الى غير ابيه سواءا كان رجلا ام امرأة وهذا عليه وعيد شديد وملعون من فعله الذي ينتسب الى غير مواليه او ينتسب الى غير ابيه هذا لا يجوز ابدا
من شريط شرح منظومة الآداب للشيخ الفوزان حفظه الله
Fatwa Syaikh Muhammad Ali Farkus hafidzohulloh

Pertanyaan :
Apakah wajib secara syar’i bagi seorang wanita menyertakan nama suaminya atau sebisa mungkin tetap menggunakan nama aslinya?

Jawab :
:الحمد لله ربِّ العالمين، والصلاة والسلام على من أرسله الله رحمة للعالمين، وعلى آله وصحبه وإخوانه إلى يوم الدين، أمَّا بعد
Tidak boleh dari segi nasab seseorang bernasab kepada selain nasabnya yang asli atau mengaku keturunan dari yang bukan ayahnya sendiri. Sungguh islam telah mengharamkan seorang ayah mengingkari nasab anaknya tanpa sebab yang benar secara ijma’.

Alloh berfirman :
ادْعُوهُمْ لآبَائِهِمْ هُوَ أَقْسَطُ عِندَ اللهِ فَإِن لَّمْ تَعْلَمُوا آبَاءَهُمْ فَإِخْوَانُكُمْ فِي الدِّينِ وَمَوَالِيكُمْ وَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ فِيمَا أَخْطَأْتُم بِهِ وَلَكِن مَّا تَعَمَّدَتْ قُلُوبُكُمْ وَكَانَ اللهُ غَفُورًا رَّحِيمًا

Dan sabda nabi shollallohu alaihi wa sallam :
مَنِ ادَّعَى إِلَى غَيْرِ أَبِيهِ أَوْ انْتَمَى إِلَى غَيْرِ مَوَالِيهِ، فَعَلَيْهِ لَعْنَةُ اللهِ وَالمَلاَئِكَةِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ، لاَ يَقْبَلُ اللهُ مِنْهُ يَوْمَ القِيَامَةِ صَرْفًا وَلاَ عَدْلاً
“Barang siapa yang mengaku sebagai anak kepada selain bapaknya atau menisbatkan dirinya kepada yang bukan walinya, maka baginya laknat Alloh, malaikat, dan segenap manusia. Pada hari Kiamat nanti, Alloh tidak akan menerima darinya ibadah yang wajib maupun yang sunnah”

Dikeluarkan oleh Muslim dalam al-Hajj (3327) dan Tirmidzi dalam al-Wala’ wal Habbah bab Ma ja’a fiman tawalla ghoiro mawalihi (2127), Ahmad (616) dari hadits Ali bin Abi Tholib rodhiyallohu anhu.

Dan dalam riwayat yang lain :

مَنِ ادَّعَى إِلَى غَيْرِ أَبِيهِ وَهُوَ يَعْلَمُ أَنَّهُ غَيْرُ أَبِيهِ، فَالجَنَّةُ عَلَيْهِ حَرَامٌ
“Barang siapa bernasab kepada selain ayahnya dan ia mengetahui bahwa ia bukan ayahnya, maka surga haram baginya.”

Dikeluarkan oleh Bukhori dalam al-Maghozi bab : Ghozwatuth Tho`if (3982), Muslim dalam “al-Iman” (220), Abu Dawud dalam “al-Adab” (bab Bab Seseorang mengaku keturunan dari yang bukan bapaknya (5113) dan Ibnu Majah dalam (al-Hudud) bab : Bab orang yang mengaku keturunan dari yang bukan bapaknya atau berwali kepada selain walinya (2610) dan Ibnu Hibban (415) dan Darimi (2453) dan Ahmad (1500) dan hadits Sa’ad bin Abi Waqqosh dan Abu Bakroh rodhiyallohu anhuma.

Maka tidak boleh dikatakan : Fulanah bintu Fulan sedangkan ia bukan anaknya, tetapi boleh dikatakan : Fulanah zaujatu Fulan (Fulanah istrinya si Fulan) atau tanggungannya si Fulan atau wakilnya Fulan. Dan jika tidak disebutkan idhofah-idhofah ini -dan hal ini sudah diketahui & biasa- maka sesungguhnya apa-apa yang berlaku dalam adat, itulah yang dipertimbangkan dalam syari’at-.
والعلمُ عند الله تعالى، وآخر دعوانا أنِ الحمد لله ربِّ العالمين، وصلى الله على نبيّنا محمّد وعلى آله وصحبه وإخوانه إلى يوم الدين، وسلّم تسليمًا
Makkah, 4 Syawwal 1427 H
Bertepatan dengan 16 Oktober 2006 M
السؤال: هل الواجبُ على المرأةِ حملُ لقبِ زوجِها شرعًا أم بإمكانها البقاء على لقبها الأصليِّ ؟الجوابالحمد لله ربِّ العالمين، والصلاة والسلام على من أرسله الله رحمة للعالمين، وعلى آله وصحبه وإخوانه إلى يوم الدين، أمَّا بعد:
فلا يجوزُ من حيث النسبُ أن يُنْسَبَ المرءُ إلى غير نسبه الأصلي أو يُدَّعَى إلى غير أبيه، فقد حَرَّم الإسلام على الأب أن يُنْكِرَ نَسَبَ ولدِه بغير حقٍّ إجماعًا، لقوله تعالى: ﴿ادْعُوهُمْ لآبَائِهِمْ هُوَ أَقْسَطُ عِندَ اللهِ فَإِن لَّمْ تَعْلَمُوا آبَاءَهُمْ فَإِخْوَانُكُمْ فِي الدِّينِ وَمَوَالِيكُمْ وَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ فِيمَا أَخْطَأْتُم بِهِ وَلَكِن مَّا تَعَمَّدَتْ قُلُوبُكُمْ وَكَانَ اللهُ غَفُورًا رَّحِيمًا﴾ [الأحزاب: 5]، ولقوله صلى الله عليه وآله وسلم: «مَنِ ادَّعَى إِلَى غَيْرِ أَبِيهِ أَوْ انْتَمَى إِلَى غَيْرِ مَوَالِيهِ، فَعَلَيْهِ لَعْنَةُ اللهِ وَالمَلاَئِكَةِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ، لاَ يَقْبَلُ اللهُ مِنْهُ يَوْمَ القِيَامَةِ صَرْفًا وَلاَ عَدْلاً»(١- أخرجه مسلم في «الحج» (3327)، والترمذي في «الولاء والهبة» باب: باب ما جاء فيمن تولى غير مواليه (2127)، وأحمد (616)، من حديث علي بن أبي طالب رضي الله عنه، وفي رواية أخرى: «مَنِ ادَّعَى إِلَى غَيْرِ أَبِيهِ وَهُوَ يَعْلَمُ أَنَّهُ غَيْرُ أَبِيهِ، فَالجَنَّةُ عَلَيْهِ حَرَامٌ»(٢- أخرجه البخاري في «المغازي» باب: غزوة الطائف (3982)، ومسلم في «الإيمان» (220)، وأبو داود في «الأدب» باب: باب في الرجل ينتمي إلى غير مواليه (5113)، وابن ماجه في «الحدود» باب: باب من ادعى إلى غير أبيه أو تولى غير مواليه (2610)، وابن حبان (415)، والدارمي (2453)، وأحمد (1500)، من حديث سعد بن أبي وقاص وأبي بكرة رضي الله عنهما) ، فإذا كان لا يجوز أن يقال: فلانة بنت فلان وهي ليست ابنته، ولكن يجوز أن يقال: فلانة زوجة فلان أو مكفولة فلان أو وكيلة عن فلان، فإذا لم تذكر هذه الإضافات -وكانت معروفة معهودة- «فإنّ ما يجري بالعرف يجري بالشرع».
والعلمُ عند الله تعالى، وآخر دعوانا أنِ الحمد لله ربِّ العالمين، وصلى الله على نبيّنا محمّد وعلى آله وصحبه وإخوانه إلى يوم الدين، وسلّم تسليمًا.
مكة في: 4 شـوال 1427ﻫ
الموافق ﻟ: 26 أكتوبر 2006م
Lalu, Bagaimana yang disyariatkan?

Yang disunnahkan adalah menggunakan nama kunyah (baca: kun-yah), sebagaimana telah tsabit dalam banyak hadits, dan ini jelas lebih utama daripada menggunakan laqob/julukan-julukan yang berasal dari adat barat ataupun ‘ajam. Sebagaimana yang dikatakan oleh syaikh al-Albani rohimahulloh dalam Silsilah al-Ahaadits ash-Shohihah no. 132 :

Rosululloh shollallohu alahi wa sallam bersabda :
اكْتَنِي [بابنك عبدالله – يعني : ابن الزبير] أَنْتِ أُمَّ عَبْدِ اللَّهِ
“Berkun-yahlah [dengan anakmu –yakni: Ibnu Zubair] kamu adalah Ummu Abdillah” [Lihat ash-Shohihah no. 132]

Dikeluarkan oleh al-Imam Ahmad : haddatsana Abdurrozzaq (bin Hammam, pent), haddatsana Ma’mar (bin Rosyid, pent) dari Hisyam (bin ‘Urwah, pent), dari bapaknya (Urwah bin Zubair, pent) : bahwa ‘Aisyah berkata kepada Nabi shollallohu alaihi wa sallam :

يَا رَسُولَ اللَّهِ كُلُّ نِسَائِكَ لَهَا كُنْيَةٌ غَيْرِي فَقَالَ لَهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  فذكره بدون الزيادة

“Wahai Rasulullah, semua istrimu selain aku memiliki kun-yah”, lalu Rasulullah shollallohu alaihi wa sallam bersabda kepadanya : (lalu beliau menyebutkan hadits ini tanpa tambahan).

Berkata (Urwah, pent) : Ketika itu ‘Aisyah disebut sebagai Ummu Abdillah sampai ia meninggal dan ia tidak pernah melahirkan sama sekali.

Berdasarkan hadits ini, disyariatkan berkun-yah walaupun seseorang tidak memiliki anak, ini merupakan adab Islami yang tidak ada bandingannya pada ummat lainnya sejauh yang aku ketahui. Maka sepatutnya bagi kaum muslimin untuk berpegang teguh padanya, baik laki-laki maupun wanita, dan meninggalkan apa yang masuk sedkit demi sedikit kepada mereka dari adat-adat kaum ‘Ajam seperti al-Biik (البيك), al-Afnadi (الأفندي), al-Basya (الباشا), dan yang semisal itu seperti al-Misyu (المسيو), as-Sayyid (السيد), as-Sayyidah (السيدة), dan al-Anisah (الآنسة), ketika semua itu masuk ke dalam Islam. Dan para fuqoha’ al-Hanafiyyah telah menegaskan tentang dibencinya al-Afnadi (الأفندي) karena di dalamnya terdapat tazkiyah, sebagaimana dalam kitab ‘Hasyiyah Ibnu Abidin’. Dan Sayyid hanya saja dimutlaqkan atas orang yang memiliki kepemimpinan atau jabatan, dan pada masalah ini terdapat hadits (قوموا إلى سيدكم) “Berdirilah kepada (tolonglah, pent) sayyid kalian”, dan telah berlalu pada nomor 66 (dalam ash-Shohihah, pent) dan tidak dimutlakkan atas semua orang karena ini juga masuk pada bentuk tazkiyah.

Faidah : adapun hadits yang diriwayatkan dari ‘Aisyah rodhiyallohu anha bahwa bahwa ia mengalami keguguran dari Nabi shollallohu alaihi wa sallam, lalu ia menamainya (janin yang gugur tersebut, pent) Abdulloh, dan ia berkun-yah dengannya, maka hadits tersebut bathil secara sanad dan matan. Dan keterangannya ada pada adh-Dho’ifah jilid ke-9. -Selesai perkataan syaikh al-Albani rohimahulloh-

Maroji‘: – Fatwa Lajnah Da’imah – Fatwa Syaikh Sholeh Fauzan – Fatwa Syaikh Farkus – Perkataan Syaikh al-Albani

Friday, May 21, 2010

27 Prayers to The Rabb from The Qur'an

My Lord, make this a City of Peace, and feed its people with fruits,-such of them as believe in Allah and the Last Day
Rabbi aj'al hadha baladaan aminan, waarzuq 'ahlahu mina ath-thamarati man amana minhum billahi wal-yawmal akhir
رَبِّ اجْعَلْ هَـَذَا بَلَدًا آمِنًا وَارْزُق ْأَهْلَهُ مِنَ الثَّمَرَاتِ مَنْ آمَنَ مِنْهُم بِاللّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ
[البقرة :126]
O my Lord! Grant unto me from Thee a progeny that is pure: for Thou art He that heareth prayer!
Rabbi habli mill-lidunka dhurriy-yata(n) Tayyibatah. Innaka Sami'ud-du'a
رَبِّ هَبْ لِي مِن لَّدُنْكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً إِنَّكَ سَمِيعُ الدُّعَاء
[آل عمران :38]
"O my Lord! forgive me and my brother! admit us to Thy mercy! for Thou art the Most Merciful of those who show mercy!"
[7: 151]
Rabbi aghfir li wal akhi wa-adkhilna fi rahmatika wa anta arhamur-Rahimin
رَبِّ اغْفِرْ لِي وَلأَخِي وَأَدْخِلْنَا فِي رَحْمَتِكَ وَأَنتَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ
[151: الأعراف]
O my Lord! I do seek refuge with Thee, lest I ask Thee for that of which I have no knowledge. And unless thou forgive me and have Mercy on me, I should indeed be lost!
Rabbi inni a'udhubika 'an as'alaka ma laysa li bihi 'ilm. Wa 'illa tagfir li wa tarhamni 'akum minal khasireen
رَبِّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أَسْأَلَكَ مَا لَيْسَ لِي بِهِ عِلْمٌ وَإِلاَّ تَغْفِرْ لِي وَتَرْحَمْنِي أَكُن مِّنَ الْخَاسِرِينَ
[هود :47]
"O my Lord! Thou hast indeed bestowed on me some power, and taught me something of the interpretation of dreams and events,- O Thou Creator of the heavens and the earth! Thou art my Protector in this world and in the Hereafter. Take Thou my soul (at death) as one submitting to Thy will (as a Muslim), and unite me with the righteous."
Rabbi qad aatay-tanee minal-mulki wa allam-tanee min ta'-weelil 'ahadees faatir assamawati wal-arz anta wa liyii fi dunya wal-'akhirati ta-waffanee musliman wa 'al-hiqnee bis-saaliheen
رَبِّ قَدْ آتَيْتَنِي مِنَ الْمُلْكِ وَعَلَّمْتَنِي مِن تَأْوِيلِ الأَحَادِيثِ فَاطِرَ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ أَنتَ وَلِيِّي فِي الدُّنُيَا وَالآخِرَةِ تَوَفَّنِي مُسْلِمًا وَأَلْحِقْنِي بِالصَّالِحِينَ
[يوسف :101]
O my Lord! Make this city one of peace and security: and preserve me and my sons from worshipping idols.
Rabbi ij'al hadhal balada 'aaminan wa Ajnubni wa Baniya 'an na'budal-'Asnam
رَبِّ اجْعَلْ هَـذَا الْبَلَدَ آمِنًا وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَن نَّعْبُدَ الأَصْنَامَ
[إبراهيم :35]
O my Lord! make me one who establishes regular Prayer, and also (raise such) among my offspring O our Lord! and accept Thou my Prayer. O our Lord! cover (us) with Thy Forgiveness - me, my parents, and (all) Believers, on the Day that the Reckoning will be established!
Rabbij ja'alni muqeemus sal-laati wa min dhur-riyyati, rabbana wa taqabal du'a, rabbana-aghfirli wali wali dayya wa lil-mu'minina yawma yaqumul hisaab
رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلاَةِ وَمِن ذُرِّيَّتِي رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاء رَبَّنَا اغْفِرْ لِي وَ لِوَالِدَيَّ وَ لِلْمُؤْمِنِينَ يَوْمَ يَقُومُ الحِسَاب
[إبراهيم :40-41]
My Lord! bestow on them thy Mercy even as they cherished me in childhood
Rabbir ham huma kama rabbayani sagheera
رَّبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا
[الإسراء :24]
O my Lord! Let my entry be by the Gate of Truth and Honour, and likewise my exit by the Gate of Truth and Honour; and grant me from Thy Presence an authority to aid (me)."
Rabbi 'adkhilni mudkhala Sidqin wa 'akhrijni mukhraja Sidqin waj'al-li mil-ladunka Sultanan nasira
رَّبِّ أَدْخِلْنِي مُدْخَلَ صِدْقٍ وَأَخْرِجْنِي مُخْرَجَ صِدْقٍ وَاجْعَل لِّي مِن لَّدُنكَ سُلْطَانًا نَّصِيرًا
[الإسراء :80]
O my Lord! expand me my breast; Ease my task for me; And remove the impediment from my speech, So they may understand what I say
Rabbish rahli sadri wa yas-sir li amri wahloul uqdatam mil-lisaani yafqahu qawli
رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِّن لِّسَانِي يَفْقَهُوا قَوْلِي
[25--28: طه]
O my Lord! advance me in knowledge.
Rabbi zidni 'Ilma
رَّبِّ زِدْنِي عِلْمًا
[114: طه]
O my Lord! leave me not without offspring, though thou art the best of inheritors
Rabbi la tadharni fardaw wa-anta Khairul Waritheen
رَبِّ لَا تَذَرْنِي فَرْدًا وَأَنتَ خَيْرُ الْوَارِثِينَ
[الأنبياء :89]
O my Lord! enable me to disembark with thy blessing: for Thou art the Best to enable (us) to disembark
Rabbi anzilni munzalan mubarakan wa anta khayru ‘l-munzilin
رَّبِّ أَنزِلْنِي مُنزَلًا مُّبَارَكًا وَأَنتَ خَيْرُ الْمُنزِلِينَ
[المؤمنون :29]
O my Lord! Put me not amongst the people who do wrong
Rabbi fala taj'alni fil-Qawmidh-Dhalimeen
رَبِّ فَلَا تَجْعَلْنِي فِي الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ
[المؤمنون :94]
O my Lord! I seek refuge with Thee from the suggestions of the Evil Ones. And I seek refuge with Thee O my Lord! lest they should come near me
Rabbi a'udhu bika min hamazaatish- shayaatini wa a'udhu bika Rabbi any-yahdhuruun
رَّبِّ أَعُوذُ بِكَ مِنْ هَمَزَاتِ الشَّيَاطِينِ وَأَعُوذُ بِكَ رَبِّ أَن يَحْضُرُونِ
[المؤمنون :97-98]
O my Lord! grant Thou forgiveness and mercy for Thou art the Best of those who show mercy!
Rabbi aghfir warham wa anta khayrur Rahimeen
رَّبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَأَنتَ خَيْرُ الرَّاحِمِينَ
[المؤمنون :118]
O my Lord! bestow wisdom on me, and join me with the righteous;
Rabbi hab li hukman wa'alhiqni bis-Saliheen
رَبِّ هَبْ لِي حُكْمًا وَأَلْحِقْنِي بِالصَّالِحِينَ
[الشعراء :83]
O my Lord! I have indeed wronged my soul! Do Thou then forgive me!
Rabbi inni dhalamtu nafsi faghfir li faghafara lahu innahu huwaal ghafur-ur-Raheem
رَبِّ إِنِّي ظَلَمْتُ نَفْسِي فَاغْفِرْ لِي فَغَفَرَ لَهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
[القصص :16]
O my Lord! Save me from people given to wrong-doing
Rabbi Najjini minal-Qawmidh-Dhalimeen
رَبِّ نَجِّنِي مِنَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ
[القصص :21]
I do hope that my Lord will show me the smooth and straight Path
Rabbi 'an yahdiyani sawa'a-as-Sabeel
رَبِّي أَنْ يَهْدِيَنِي سَوَاءَ السَّبِيل
[القصص :22]
O my Lord! truly am I in (desperate) need of any good that Thou dost send me!
Rabbi inni li-ma anzalta liayya min khairin faqir
رَبِّ إِنِّي لِمَا أَنزَلْتَ إِلَيَّ مِنْ خَيْرٍ فَقِير
[القصص :24]
O my Lord! Help Thou me against people who do mischief!
Rabbi ansurni 'alal-Qawmil-mufsideen
رَبِّ انصُرْنِي عَلَى الْقَوْمِ الْمُفْسِدِينَ
[العنكبوت :30]
O my Lord! Grant me a righteous (son)!
Rabbi-habli minas-saliheen
رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ
[الصافات :100]
O my Lord! Grant me that I may be grateful for Thy favour which Thou has bestowed upon me, and upon both my parents, and that I may work righteousness such as Thou mayest approve; and be gracious to me in my issue. Truly have I turned to Thee and truly do I bow (to Thee) in Islam
Rabbi 'awzi'nî 'an 'ashkura ni'mataka Allati 'an'amta 'alayya wa 'ala walidayya wa 'an 'amala salihaan Tardahu wa 'Aslih-li fi Dhurriyati 'Inni tubtu 'ilayka wa 'inni minaal-Muslimeen
رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ
[الأحقاف :15]
O my Lord! Forgive me!
[38: 35]
Rabbi ighfir lee
رَبِّ اغْفِرْ لِي
[35: ص]
O my Lord! Build for me, in nearness to Thee, a mansion in the Garden, and save me from Pharaoh and his doings, and save me from those that do wrong
Rabbi ibni li 'indaka Baytan Fil Jannah wa Najjini min Fir'awna wa 'amalihi wa Najjini minal-Qawmidh-Dhlimeen
رَبِّ ابْنِ لِي عِندَكَ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ وَنَجِّنِي مِنْ فِرْعَوْنَ وَعَمَلِه ِِ وَنَجِّنِي مِنَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ
[التحريم :11]
O my Lord! Forgive me, my parents, all who enter my house in Faith, and (all) believing men and believing women: and to the wrong-doers grant Thou no increase but in perdition!
Rabbigh-fir li wali-walidayya, wali man dakhala baytina mu'minaw walilmu'mineena, wal mu'minati wala tazidiz-zalimeena illa tabara
رَبِّ اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِمَن دَخَلَ بَيْتِيَ مُؤْمِنًا وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَلَا تَزِدِ الظَّالِمِينَ إِلَّا تَبَارًا
[نوح :28]

Wednesday, May 5, 2010

Pentingnya Pendidikan Perempuan (part 2)

Sebelum saya membahas lebih lanjut tentang pentingnya pendidikan perempuan, saya akan menjelaskan mengapa saya memakai istilah "perempuan", ketimbang "wanita". Dalam kosakata sehari-hari pun, saya menghindari menggunakan "wanita" dan selalu menggunakan kata "perempuan". Karena, konon kata perempuan bisa diartikan menjadi "per-EMPU-an", dimana kata "empu" memiliki makna sebagai seorang/sesuatu yang penting/bernilai, seperti diungkapkan oleh Djauharah Bawazir:
"Apabila kita mengurai kata perempuan, akan kita temukan akar kata empu yang mendapat awalan per dan akhiran an. Sementara kata empu pada kamus bahasa Indonesia susunan W.J.S Poerwodarminto diartikan seagai tuan atau orang ahli. Sedangkan dalam bahasa Jawa, kata empu juga jadi sebutan bagi bagian awal/yang ada lebih dahulu dari beragai temu (bahan bumbu masak atau jamu, seperti kunyit, jahe, kunci, atau lainnya) yang dari situ akan tumbuh tunas-tunas atau disebut juga entik. Empu akan meberikan makanan dan menjaga pertumbuhan tunas-tunas itu sampai mereka siap hidup dipisahkan dari sang empu untuk nantinya merekapun akan menumbuhkan tunas-tunas baru, dan mereka masing-masing akan menjadi empu. Orang  yang ahli membuat jamu pasti  akan mencari empu, bukan entik, karena empu mempunyai kualitas yang luar biasa dibanding dengan entiknya. Baik dari rasa, kandungan maupun khasiatnya. Nah, per-empu-an bisa diartikan sebagai orang terhormat yang mempunyai kualitas luar biasa, dari segi kemampuan, keuletan, kegigihan dan kesabaran, termasuk kesediaan menanggung resiko."
Dengan demikian, menggunakan kata "perempuan" buat saya pribadi memberikan kehormatan sendiri bagi perempuan.

Pendidikan memang penting bagi seluruh manusia. Pendidikan dapat diartikan menjadi tarbiyah, yang berasal dari kata "rabb" yang bisa diartikan menjadi  membina, menjaga, memelihara. Seperti kita ketahui, Rabb adalah salah satu sifat Allah SWT yang senantiasa membina, menjaga dan memelihara segalanya di alam semesta ini. Tarbiyah sendiri menjadi penting dan sesuatu yang dibutuhkan bagi manusia karena beberapa hal. Pertama, manusia pada fitrahnya selalu membutuhkan nasihat. Ini dihubungkan dengan faktor kedua, yaitu bahwa manusia memiliki sifat pelupa, lemah dan bodoh. Karena sifat-sifat inilah manusia terus harus dan pada dasarnya ingin ditempa sehingga menjadi kuat dan baik. Selain itu, yang ketiga, manusia butuh hidup berkelompok. Proses tarbiyah adalah sesuatu yang tidak bisa dilakukan sendirian. Kita butuh orang lain untuk mengajarkan kita, seperti mungkin orang lain butuh kita untuk bisa menunjukkan dia kepada kebaikan.

Mengapa pendidikan menjadi begitu penting, khususnya bagi perempuan? Karena perempuan adalah pembentuk generasi dan menciptakan peradaban. Setiap manusia yang pernah ada di muka bumi ini, kecuali Nabi Adam AS dan Siti Hawa, berasal dari rahim seorang ibu -- seorang perempuan. Adanya kita selama sembilan bulan dikandung di dalam rahim ibu kita, membuat kita memiliki hubungan yang sangat istimewa dengan ibu kita. Anak-anak pun, dalam perkembangannya sangat dipengaruhi oleh ibu, dimulai dari sejak awal proses konsepsinya. Misalnya kondisi kerohanian pada saat pembuahan bisa jadi mempengaruhi perkembangan janin dan proses kelahiran itu sendiri. Maka dari itu dianjurkan kepada pasangan suami-istri yang hendak bersenggama untuk berdoa agar dihindarkan dari setan dan dijadikan hubungan tersebut--dan hasilnya kelak--sebagai rezeki, sebagaimana sabda Rasulullah SAW:
"Seandainya salah seorang diantara kamu apabila ingin berhubungan dengan keluarganya membaca--Allahumma jannibna asy-syaithaan wa jannib asy-syaithaan 'ammaa razaqtanaa, (Ya Allah, jauhkanlah kami dari setan, dan jauhkan pula setan dari rezeki yang engkau anugerahkan kepada kami)--maka jika hasil dari hubungan itu menghasilkan anak, maka setan tidak akan mengganggunya sama sekali." (HR. Bukhari)
 Selain itu, hendaknya kita merujuk kepada firman Allah SWT dalam ayat sbb:
"Istri-istrimu adalah ladang bagimu..." (Q.S. Al Baqarah 2:223)
Firman Allah SWT tersebut mengkiaskan bahwa istri adalah ladang dan suami adalah petaninya. Bibit yang ditanam sang petani, betapapun bagusnya, hanya akan dapat memberikan hasil yang baik saat panen jika ladang yang digarap adalah baik tanahnya. Begitupun dalam kehidupan berkeluarga, anak hasil pembuahan pun akan berkualitas baik apabila tempat yang dikandungnya dalam kondisi yang bagus pula, baik fisik maupun rohaninya. Jika perempuan yang akan menjadi ibu ini dibekali dengan pendidikan/tarbiyah yang baik, maka yang jelas ia akan lebih kaya dalam ilmu dan wawasan. Allah SWT berfirman:
"Hai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepadamu: "Berlapang-lapanglah dalam majelis", maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan." (Q.S. Al Mujaadilah 58:11)
Maka Allah SWT akan meninggikan  derajat orang-orang yang memiliki ilmu pengetahuan, yaitu mereka yang beriman dan menghiasi diri mereka dengan ilmu pengetahuan. Seperti diuraikan M. Quraish Shihab dalam Tafsir Al Mishbah ayat ini, ilmu yang dimaksud disini adalah segala apapun ilmu yang bermanfaat, bukan hanya terbatas pada ilmu agama saja. Rasulullah SAW pun pernah bersabda tentang kedudukan orang berilmu (dan beriman) dibandingkan dengan orang yang beriman saja:
"Kelebihan orang berilmu dibandingkan dengan 'abid (seorang ahli ibadah) adalah tujuh puluh derajat." (HR. Ashbihaani)
Maka ilmu menjadi cahaya dalam langkah manusia, membuat manusia takut dan kagum kepada Allah SWT dan meninggikan derajat manusia. Dengan ilmu, keimanan dapat meningkat, begitupun dengan produktivitas kita. Dalam konteks peranan perempuan di keluarga, dengan ilmu yang dimiliki, perempuan sebagai istri dapat lebih mendukung suami dalam dakwah, dan dapat meraih kesuksesan dalam mendidik anak-anaknya. Ia memiliki pemahaman yang baik tentang menjadi istri yang shalihah, dan senantiasa bahu-membahu bersama suami dalam melaksanakan amar ma'ruf nahi munkar, sebagaimana Allah SWT telah berfirman:
"Dan orang-orang yang beriman, laki-laki dan perempuan, sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh (berbuat) yang ma'ruf, dan mencegah dari yang mungkar, melaksanakan salat menunaikan zakat, dan taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka akan diberi rahmat oleh Allah. Sunggu, Allah Mahaperkasa, Mahabijaksana." (Q.S. At Taubah 9:71).
Dalam mendidik anak-anaknya, perempuan yang berpendidikan juga memiliki kesempatan yang lebih baik dalam menghasilkan anak-anak menjadi generasi rabbani, shalih dan muslih. Anak-anak tidak hanya menjadi qurrata 'Ayun penyejuk mata dan hati, tetapi juga menjadi rahmat. Keimanan anak-anak dan keturunannya membuat keluarga saling terhubung dalam keimanan baik di dunia, maupun akhirat, sesuai firman Allah SWT: 
"Dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikit pun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya." (Q.S. At Thuur 52:21)
Sehingga sekeluarga pun dapat berkumpul kembali di dalam Surga-Nya, sebagaimana Allah SWT telah berfirman sbb:
"Surga Adn yang mereka masuk ke dalamnya bersama-sama dengan orang-orang yang saleh dari bapak-bapaknya, istri-istrinya dan anak cucunya, sedang malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu" (Q.S. Ar Ra'd 13:23)
Selain itu, perempuan juga memiliki peranan dalam masyarakat. Selain sebagai pembentuk generasi rabbani, perempuan dalam sendirinya dapat memiliki peranan yang penting sebagai anggota masyarakat. Perempuan yang meraih pendidikan akan lebih kritis dan aware terhadap lingkungannya, berusaha sebaik mungkin untuk memperbaiki kondisi masyarakat dan lingkungan di tempat dia berada. Ini dengan sendirinya juga akan meningkatkan kualitas masyarakat dan peradaban itu sendiri menuju masyarakat yang madani. Akhirul kata, semoga para perempuan lebih semangat dan istiqamah dalam menuntut ilmu yang bermanfaat, dan bagi perempuan yang telah dianugerahi Allah dengan kemampuan dan kekayaan ilmu dan wawasan yang lebih, semoga dapat lebih memanfaatkannya untuk perwujudan rasa cinta dan khasyah, takut dan kagumnya kepada Allah SWT, dan menjadikannya sarana untuk kebaikan ummat dan agamanya.  Allahumma innii audzubika min 'ilmi laa yanfa' (Ya Allah, aku berlindung kepadaMu dari ilmu yang tidak bermanfaat)
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...